....
..lagi-lagi... perasaan tidak menyenangkan ini...
!
..oh tidak, katakan aku salah dengar... aku tidak mendengar teriakan itu... tidak... hentikan..!
Kalau kau begitu, Ren bisa...!
... tuh 'kan... kubilang juga apa... lagi-lagi kau mematahkan lengan Ren... kali ini yang sebelah kanan... apa sih maumu sebenarnya..? Kalau memang kau benci Ren, buang saja dia! Atau, bunuh saja sekalian...! Tapi jangan siksa dia begitu....
Ouch... sakit...! Hentikan!!!
Apa yang kau lakukan?? Setelah Ren, kali ini kau melampiaskannya padaku?!
Kau SAKIT!!!
Aku tidak kuat seperti Ren... kalau kau memang menjadikanku sasaran berikutnya... lebih aku mati saja...
.. aku akan mengunci diri... tanpa makan... tanpa minum... sampai jasadku membusuk dan baunya menyebar ke seluruh kota.. sehingga semua orang tau bahwa kau adalah orang GILA!!
Ren..?
Jangan... jangan pergi.... ajak aku!!
Aku tidak mau ditinggal sendiri di sini... bawa aku pergi... hei... kau... si elang coklat... ya...! Bawa aku pergi dari sini... selamatkan aku... BROWNIE!!
"Akhirnya kau sadar juga, Mir..." Ren bernapas lega sambil memeluk kakak tirinya yang masih kebingungan.
"...Ren.. dimana Brownie...?"
Ren menengadah ke langit, berusaha mengarahkan pandangan Mir ke elang coklat yang terus berputar di sekitarnya sambil memancarkan energi penyembuhnya.
Mir tersenyum tenang sambil memanggil Brownie yang langsung bertengger di tangannya.
Di saat mereka berdua sedang memikirkan bagaimana caranya menyadarkan ketiga bocah yang lain, lapisan yang menyelimuti Frey mulai berubah warna dari pink, menjadi merah maroon..
Thursday, April 14, 2011
Now or Never - Mir
Posted by
Another Cat
at
4:01 PM
0
comments
Labels: asterisk
Wednesday, November 4, 2009
You Got Me - Ren
Gelap.. Tidak keliatan apa pun... Sama seperti waktu itu... di ruangan yang sempit itu....!
Aaarrgghh... kenapa aku kembali mengingat kenangan di rumah itu...? Lupakan, lupakan! Sekarang sudah ada Fr- eh? Siapa ya? Rasanya aku mengingat seseorang yang selalu bisa diandalkan... Si kembar itu, lalu ada si pemarah Lex- siapa? Kenapa aku tidak bisa mengingat siapapun?? Inuk-!!
Eh..?
Siapa yang tadi berusaha aku panggil?
'..en!'
Kenapa aku tidak bisa mengingat apa pun? Mana mungkin sampai na- eh??
Namaku....
Aku.... siapa...?
'REN!'
....aaahhh... cahaya biru mengkilat itu... warna hangat yang selalu mendampingiku... kenapa aku bisa sampai melupakannya... itu kan INUKI!!"
"Eh?!" Ren terbangun dengan Inuki menarik bagian bawah kaosnya. "Inuki..."
'Ren! Syukurlah...'
Sambil terkulai lemas, Inuki mengarahkan pandangan Ren ke Frey, Freya, Mir, dan Lexy yang badannya terbungkus lapisan pink kucel dengan badan melayang di udara. Pandangan yang lebih mengerikan lagi, Asterisk berdiri memunggungi kelimanya, tapi dengan asap aneh yang keluar dari tiap pori-pori badannya, menggerogoti tubuh besar tersebut perlahan menjadi serpihan-serpihan debu.
Posted by
Another Cat
at
11:30 AM
0
comments
Labels: asterisk
Tuesday, June 16, 2009
Now or Never -- Five Kids on the Edge
Asterisk yang wajahnya kali ini meminjam muka Lexy tidak lagi berdiam diri. Ia membalas semua serangan yang ditujukan padanya, membuat setiap Partner harus melindungi majikan mereka masing - masing agar tidak terkena serangan si monster.
"Che.. Makin ganas aja dia.."
"Lex! Tetap fokus!" Frey memperingati Lexy yang tampak kehilangan konsentrasi.
"Cerewet..! Aku tau kok...!"
"Bukan saatnya bertengkar 'kan.." sela Ren dengan sedikit takut karena keduanya langsung melirik tajam.
"FREY!!"
Teriakan Freya membuat ketiganya serempak melontarkan serangan beruntung ke arah Asterisk yang juga mengeluarkan serangan ke arah mereka bertiga. Kilatan cahaya yang muncul akibat tabrakan kedua macam serangan tersebut mementalkan kedua belah kubu, baik para bocah dan si monster itu sendiri.
Ren merasakan lengannya ditarik dengan keras dan dipaksa berdiri dari posisinya yang terjungkal keras. Sambil meringis kesakitan, Ren mengikuti paksaan tenaga tersebut. Asap tebal menyelimuti Ren, dan sambil berteriak memanggil nama teman - temannya, Ren bergerak tanpa arah sampai sebuah suara menyadarkannya.
"REN, STOP!!"
Suara Lexy membuat Ren memutar badannya ke belakang, dan cahaya biru khas serangan Lexy melewati persis di sebelah kepalanya. Dalam sekejap, asap putih tersebut mulai menipis, dan Ren bisa melihat sosok Mir dan Freya yang berdiri dibalik punggung Lexy dan Frey.
Setelah bergabung dengan yang lain, Ren baru berani menoleh ke belakang, dan melihat sosok Asterisk, dengan bagian jantung yang tertembus serangan Lexy.
Lexy berusaha mengatur nafasnya, antara senang karena keberhasilannya dan ketakutan jika si monster tiba - tiba bangkit berdiri. Frey memijat bahu Lexy perlahan, agar ketegangannya sedikit berkurang, karena Lexy masih dengan tangannya yang berposisi siaga menyerang.
"Berhasil 'kah?" tanya Freya pelan. Mir hanya menggeleng tidak tau, sementara Ren masih saja menatap nanar ke arah sang monster.
Rabi memimpin Guri dan yang lain untuk mengecek. Phoenix dan Brownie melesat sambil membersihkan sisa - sisa asap, membuat sosok tersungkur sang monster tambah terlihat jelas. Sambil menatap Frey, Rabi menggeleng pelan, mengisyaratkan bahwa Asterisk sudah kehabisan nafas.
Keempat bocah yang lain langsung menghela nafas lega, kecuali Lexy yang masih saja mengerutkan dahinya. Belum sempat Mir bertanya kenapa Lexy masih saja ketakutan, Lexy menghambur cepat ke arah Asterisk sambil berteriak kencang.
"PHOENIX!!!!"
Tepat 1 langkah di depan tubuh lunglai sang monster, barrier menyelimuti kelima bocah tersebut, dan detik berikutnya, kegelapan menyelimuti kelimanya.
Posted by
Anonymous
at
9:03 AM
0
comments
Labels: asterisk
Sunday, April 19, 2009
Now or Never -- For the Sake of Our Life
Lexy bersiul pelan seolah merayakan, tapi tangan kanannya tetap terarah lurus ke arah kepulan debu di depan mereka. Sementara Lex dan Frey berjaga, ketiga bocah yang lainnya masih menempelkan tangan ke leher masing - masing, meyakinkan diri sendiri bahwa leher mereka masih terpasang di tempat yang seharusnya, dan tidak terpotong oleh angin tajam yang baru saja berhembus di belakang mereka.
Shiro dan Tom cuma memandangi pakaian mereka yang sobek dan menyatu kembali saat terkena pisau angin tersebut. Kalau saja mereka bukan Shadow, maka mungkin saat ini mereka sudah kehilangan nyawa.
"Mana, mana? Masa cuman segitu aja!" tantang Lexy pada sosok yang akhirnya mulai berdiri tegak.
Jubah panjang putih bersih dengan wajah yang begitu dikenali kelima bocah di sana berdiri tegap di hadapan mereka semua. Anehnya, bahkan Shiro, yang wajahnya 'dipinjam' oleh sosok di depan sama sekali tidak terkejut.
Sekali lagi, Lex bersiul. Kali ini hanya untuk mencairkan suasana, karena beberapa saat kemudian 'Asterisk' di hadapan mereka malah meminjam wajah Tom. Mir yang masih bingung sempat menoleh ke arah Tom yang asli berdiri, memastikan bahwa yang di hadapan mereka saat ini adalah Asterisk.
Tanpa ragu, Rabi melayangkan sabetan pedang kecil nya tanpa ampun, membuat jubah putih yang dipakai si Asterisk terpotong. Frey melanjutkan serangan dari Rabi tersebut dengan menghantamkan serangannya tepat di wajah sang monster.
Pecahan krem persis tanah liat mencuat keluar dari retakan wajah Asterisk, membuat Lexy secara reflek meloncat mundur ke belakang. Freya yang tadinya tegang setengah mati, langsung terbahak melihat tingkah Lexy, yang langsung melancarkan serangan berikutnya karena tidak mau guratan merah di wajahnya terlihat.
"Ada apa?" tanya Shiro yang akhirnya memperhatikan raut wajah Ren yang terlihat kesal.
"..aku butuh kekuatan... aku ingin bertempur.. seperti Frey dan Lexy.." Ren mengencangkan genggaman tangannya, yang langsung melemas lagi karena Tom.
"Sudah ada kok, kalau cuma kekuatan," ujar Tom sambil tersenyum. "Yang belum ada cuma.." Tom mendekat ke arah telinga Ren dan berbisik pelan, "..keberanian.."
Ren cuma bisa tersenyum kecut, dan mengakui hal tersebut. Sambil menepuk punggung Ren, Shiro memberi isyarat mata agar Ren masuk ke dalam area pertempuran, bergabung dengan Frey dan Lexy. Tidak perlu waktu lama, kaki Ren melangkah tegap dan memposisikan dirinya di antara Frey dan Lexy.
"Ren, mundur!! Nanti kau bisa ter-"
Sinar merah menyala yang keluar dari kedua tangan Ren langsung membekap Lexy yang cuma bisa ternganga terkejut. Frey tersenyum senang, dan sambil menepuk punggung Ren, ia berujar pelan, "Welcome to the club, Ren."
Dan untuk ketiga kalinya, Lexy bersiul girang. Pancaran matanya seolah berkata bahwa ia sudah tidak sabar untuk menghabisi monster di hadapannya, bersama - sama dengan Ren dan Frey. Sambil mengacungkan jempol yang dibalik, Lexy melontarkan tantangan untuk sang Asterisk.
"Monster jelek, kali ini kau pasti akan tersungkur meminta ampun!!"
Posted by
Anonymous
at
9:51 AM
0
comments
Labels: asterisk
Thursday, March 19, 2009
Now or Never -- The Third Monster
Mir menyerahkan sepasang buku, yang tadi diberikan oleh 'Shiro', kepada Shiro yang hanya tersenyum simpul.
"Maaf ya, mengagetkan kalian seperti itu. Tapi kalau Nightmare tidak hilang, maka aku tidak bisa ada di sini bersama kalian. Tom dan Eternia juga begitu. Ya 'kan?"
Tom cuma mengangkat alisnya, dan Frey langsung menepuk - nepuk punggungnya.
"Ada apa dengan buku itu?" tanya Freya penasaran.
"Ini, adalah monster terakhir," ujar Shiro, membuat kelima bocah itu cuma bisa kebingungan. "Monster pertama, Nightmare, diambil dari jiwaku, yang tidak pernah puas dengan apa yang sudah kudapat. Monster kedua, Eternia, diambil dari jiwa Tom, yang selalu ingin memperbaiki masa lalunya."
"Kemudian monster ketiga, yang terakhir, adalah Asterisk," Tom membuka kedua buku tersebut di bagian tengah, dan menyatukan keduanya. Sosok yang mirip Lights tampak di sana.
"Hm? Bukannya itu.." Sebelum Lexy sempat menyelesaikan kalimatnya, Tom dan Shiro sudah mengangguk.
"Monster ketiga, diambil dari jiwa pimpinan Lights, dan jiwa semua Lights yang ada," ujar Tom sambil menutup kedua buku tersebut.
"Jadi jika monster terakhir ini kita 'kalahkan' maka..?" Ren ragu menyelesaikan kalimatnya.
"Tugas kalian selesai."
"Hee? Kalau begitu, sudah tidak bisa bertemu Guri lagi...? Padahal kami baru saja bertemu.." Freya langsung kecewa.
"Memangnya, kapan Asterisk itu akan muncul? Tidak dalam waktu dekat ini kan?" tanya Mir.
Dengan perlahan, Shiro membuka kedua buku tersebut, dan pada bagian belakang, ia menyodorkannya kepada kelima bocah itu.
"'now'?" baca Frey. "Sekarang?"
"Ah ngaco it-!"
Belum selesai Lexy berkata - kata, bangunan Mansion itu perlahan memudar, mulai dari langit - langit yang paling atas.
"..apa kita harus bertempur sekali lagi?" tanya Mir.
"Melawan Eternia saja kita kepayahan.. apa ada harapan kita bisa menang kali ini?" ucap Ren pesimis.
Shiro cuma tersenyum kecil.
"Walaupun kalah dengan Eternia, tapi kalian berhasil mengalahkan Nightmare 'kan?"
"Itu sih cuman Frey dan Lex, 'kan?" gumam Freya sambil menuding keduanya.
"Susah sih ya, kita kan orang - orang heba- ADUH!!" Lexy tidak sempat menghindari geplakan tanan Freya yang memukul kepalanya dengan keras.
Bersamaan dengan itu, Mansion of Beginning sudah tidak lagi meninggalkan bekasnya. Hamparan laut biru dengan matahari terbenam membuat mereka takjub dan melongo untuk beberapa saat.
"Jangan lengah ya.." ucap Shiro pelan. "Kalau lengah sedikit saja.. leher kalian bisa putus loo.."
Secara bersamaan, kelima bocah itu merasakan bulu kuduk mereka yang mulai berdiri merinding.
Posted by
Anonymous
at
10:06 AM
0
comments
Labels: asterisk
Friday, January 9, 2009
Now or Never -- A Pair of Friend
Tom berusaha melepaskan diri dari rantai yang membalut lengan dan kakinya, tapi percuma. Hal itu malah melukai nya lebih dalam lagi. Darah segar mengucur perlahan dari lukanya, tapi Tom tidak menghiraukannya, dan kembali berteriak memberontak.
Tidak lama kemudian, usahanya menampakkan hasil yang tidak sia - sia. Segerombolan Lights mulai menghampirinya, dan berdiri mengitarinya. Tom berusaha meyakinkan mereka bahwa ia hanya ingin berbicara dengan pimpinan mereka. Tapi yang diajak bicara tampak tidak mengacuhkannya.
Lights dengan jubah yang bersinar paling terang memasuki ruangan, dan Tom langsung mendapatkan firasat buruk. Ia berdiri tepat di belakang kepala Tom, dan memandang kepalanya dari bagian atas.
"Dengarkan aku! Aku cuma ingin berunding dengan mu!!"
"Kau berharap aku percaya, setelah kau pergi berusaha menyebarkan rahasia kami pada teman kecilmu itu?"
"...! Itu hal yang wajar kan?! Mana ada orang yang akan membiarkan dirinya dan teman baiknya dimanfaatkan oleh orang - orang seperti kalian?!"
"Hmph. Jadi kau berusaha mencari anak lain untuk menggantikan keinginanmu menghancurkan kami, para LIghts?"
"Buk-"
"Dan kau juga berharap kelima bocah itu bisa membawa Partners lebih banyak daripada kalian, dan berharap mereka bisa menetralisir kami, begitu?"
"Ck! Aku sudah bilang, tidak se-"
"Jadi, apa maumu dengan membawa mereka ke sini? Kau tidak bisa menjawabnya 'kan?"
"Aku... ck... aku cuma ingin membawa Shiro kembali... cuma itu.."
"Kalau begitu, sayang sekali.. karena kau mungkin akan membawa orang yang ingin kau kembalikan itu ke tempat seharusnya dia berada.."
Hal terakhir yang diingat Tom, sepasang tangan hitam kelam yang menutupi kedua matanya, dan kemudian lengannya terasa kaku. Kemudian kakinya, punggungnya, dan terakhir wajahnya pun terasa susah digerakkan. Kegelapan dengan seujung cahaya mulai mendekat ke arahnya.
Hal pertama yang dilihatnya setelah itu adalah Shiro dengan napas tersengal - sengal di hadapannya. Ia ingin sekali berlari ke arahnya dan menepuk punggungnya, meyakinkan bahwa ia baik - baik saja. Tapi sepasang lengan dengan cakar tajam mencabik tubuh teman baiknya itu. Sekuat tenaga Tom berusaha meraih Shiro dan menariknya dari sana, tapi seperti apapun usahanya, tidak ada yang terjadi sama sekali.
Ia bisa merasakan Shiro menarik lengan bajunya, tapi kemudian sepasang cakar tajam itu mencengkeramnya dari belakang. Kali ini Tom merasakan ia berteriak keras, dan akhirnya berhasil meraih Shiro ke dalam dekapannya. Bersamaan dengan itu, ia tidak lagi merasa menjadi dirinya sendiri.
Kesadaran manusianya hilang, digantikan oleh kegelapan yang dulu dirasakannya saat pertama kali menjadi Shadow. Sambil didampingi Eternia, ia menyeret tubuh Shiro yang setengah sadar ke hadapan kelima bocah yang sudah menanti di area depan..
Posted by
Anonymous
at
10:31 PM
0
comments
Labels: asterisk
Monday, November 17, 2008
Now or Never -- One Truth
"Umh." Sekali lagi, Tom memandang Shiro tepat di kedua matanya. "Yang akan kita lakukan ini berbahaya buat mereka. Lagipula pertarungan kali ini bukan main - main. Bisa - bisa mereka kehilangan nyawa. Bukan mereka saja, bahkan aku sendiri tidak yakin kalau kita bisa selamat keluar hidup - hidup dari Klaudi.."
Shiro mengangguk membenarkan. Ia memutuskan tidak akan bertanya lagi tentang hal itu pada Tom. Matanya menatap lurus ke depan, berharap ia segera sampai di Klaudi untuk menghadapi para Lights. Tapi tidak sampai berapa lama, Shiro menyadari bahwa mereka telah disambut.
"Lights!!" seru Shiro panik saat melihat segerombolan pasukan berjubah putih dari kejauhan. Tom cuma bisa berdecak kesal. Kedua nya kebingungan, apa yang harus diperbuat.
"Jumlah mereka terlalu banyak... Sial... Kalau diserang langsung kayak gini mana mungkin kita..." gerutu Tom sambil menggigiti kuku jarinya.
Tidak sampai 5 menit, kereta hitam yang dinaiki mereka berdua mulai oleng, karena serangan yang diluncurkan Lights di depan mereka.
"..Tom.. gimana..?" tanya Shiro ragu, seiring kereta yang memperlamban jalannya.
"Kita terobos."
Shiro tampak ragu dengan jawaban Tom, tapi ia hanya menganggukkan kepala. Berlama - lama di sini pun tidak menjamin nyawa mereka, jadi lebih baik sekalian saja. 'Nothing to lose' kalau kata Tom.
"Siap - siap ya.."
Shiro mengangguk sambil menelan ludah perlahan. Tom mulai menghitung mundur saat kereta yang mereka tumpangi mulai mendekat ke arah Lights. Saat hitungan seharusnya mencapai angka 0, getaran yang seharusnya dirasakan oleh Shiro akibat tabrakan sama sekali tidak terasa.
Hal yang berikutnya disadari oleh Shiro adalah, ia sudah terpental di dalam sebuah gerbong yang tadi dinaikinya bersama dengan Tom. Tapi bedanya, ia bisa melihat Tom mengangkat kedua tangannya, seolah ia baru saja 'membuang' gerbong tersebut bersama Shiro di dalamnya.
Gerbong yang dinaiki Shiro terangkat makin tinggi ke langit, sementara ia dari atas bisa melihat kereta hitam Tom yang ditahan oleh para Lights. Sambil berusaha memicingkan mata, Shiro cuma bisa pasrah saat sosok Tom digiring oleh 2 Lights di kanan dan kiri nya.
Sambil berusaha memusatkan kekuatannya, Shiro berhasil membentuk kereta putihnya, dan dengan kepala yang penuh pikiran buruk tentang Tom, ia langsung memaju keretanya menuju Sands of Time. Tempat yang seharusnya menjadi perhentian terakhir dari kelima anak - anak itu.
Posted by
Anonymous
at
10:05 PM
0
comments
Labels: asterisk
Wednesday, November 5, 2008
Your Name Never Gone -- Mansion of the Beginning
Dengan langkah gontai, kelima bocah itu memasuki Mansion di depan mereka. Tidak ada keinginan untuk menemukan sesuatu di sana, mereka hanya ingin memejamkan mata dan melupakan semua kejadian buruk yang baru saja terjadi.
Sampai di dalam, 5 buah sofa seperti menyambut mereka, dan tanpa basa basi kelimanya langsung menempatkan diri masing - masing di tiap sofa. Tidak sampai 10 menit, kesadaran kelima bocah itu sudah melayang jauh.
Sosok lelaki dengan jubah hitam legam menjuntai sampai ke bawah kakinya melangkah menuruni tangga spiral yang ada di Mansion itu. Suara langkahnya hampir tidak terdengar sama sekali, sehingga kelima bocah itu tidak ada yang menyadari kehadirannya.
Si lelaki menghampiri salah satunya, Ren, yang membuka matanya perlahan. Ren sama sekali tidak kaget dengan penampakan lelaki yang sekarang menghadap wajah Ren dari atas.
"Kenapa kau menolak untuk pulang?" tanyanya dengan suara yang begitu dikenal oleh Ren. "Banyak orang begitu inginnya kembali ke tempat di mana mereka dibesarkan, kembali ke tempat yang mau menerima mereka apapun kondisinya."
"Mana ada sih yang mau pulang ke rumah tanpa jiwa itu. Di buku yang pernah kubaca, seharusnya yang namanya 'keluarga' dan 'rumah' tidak seperti rumahku saat ini. Seharusnya di rumah itu akan ada yang menyambut kepulangan kita. Tapi di rumah itu.. yang ada hanya sepasang tangan yang siap mencekik lehermu saat kau menjejakkan kaki di pintu depan.." Ren menatap balik sepasang mata yang mengamatinya dari tadi. "Lagipula..." Dengan satu gerakan, Ren menegakkan tubuhnya dan menatap keempat kawannya yang masih berada di sofa masing - masing. "Di sini, aku merasa sudah pulang..."
"Shiro!" Mir yang terbangun langsung mengenali sosok berjubah hitam di sebelah Ren. Seruannya membuat ketiga bocah yang lain langsung menegakkan badan.
Dengan reflek, Freya meloncat dari sofanya dan, detik berikutnya, ia sudah mendekap Shiro sampai penutup kepalanya terlepas, dan memperlihatkan wajah Shiro yang tampak terkejut setengah mati.
"..syukurlah.." bisik Freya pelan. Kata yang sama seperti yang ia ucapkan saat menyambut kedatangan Frey dan Lexy setelah mereka melawan Nightmare. "Mana Tom?"
Langkah berat yang muncul dari tangga spiral membuat kelimanya menoleh, dan Shiro pun ikut menoleh sambil tersenyum simpul. Ekspresi kelima bocah itu bertambah cerah, karena akhirnya, mereka bisa melihat wajah Tom yang mereka kenal.
Posted by
Anonymous
at
9:30 AM
0
comments
Labels: asterisk
Monday, November 3, 2008
Your Name Never Gone -- Shiro
Freya memilih untuk memejamkan matanya, dan bersandar di bahu Frey, yang juga menengadahkan kepalanya untuk mengistirahatkan pikiran dan fisiknya. Lexy seperti biasa tidur telentang di kursi penumpang. Walaupun matanya terpejam, tapi ia sama sekali tidak tidur, atau lebih tepatnya, tidak bisa.
Mir memilih untuk mengalihkan pandangannya ke kota Klaudi yang sudah tidak berbentuk itu, sedangkan Ren duduk manis di sebelahnya sambil bengong. Pikiran Ren kosong, dan ia tidak berusaha untuk mengisinya. Ia hanya ingin rilex sebentar, tidak ingin memikirkan hal yang baru saja terjadi barusan.
Tapi keinginannya terganggu saat 'Shiro' yang tadinya di ruang masinis, kini memasuki gerbong penumpang.
"Shiro meninggalkan ini.." ucapnya sambil menyerahkan sepasang buku yang dulu pernah mereka lihat. Buku dengan peta yang akan menjadi jelas jika keduanya disatukan, buku yang berisi 'keinginan' dari Shadows dan Lights.
Mir yang matanya masih terbuka, mengambil kedua buku itu dari 'Shiro'. Sambil membuka - buka buku tersebut, Mir menyempatkan diri melirik ke 'Shiro'. Sama sekali tidak ada ekspresi di wajahnya, yang menandakan bahwa ia memang bukan manusia, tapi hanya Nightmare.
"Buat apa kedua buku ini?" tanya Mir. "Shiro bilang apa lagi pada mu?"
"Shiro tidak bilang apa - apa lagi. Ia hanya memintaku menyerahkan itu. Setelah itu, tugas ku selesai.."
Tangan kanan Lexy dan Frey secara tiba - tiba mulai mengeluarkan sinar biru yang mengarah ke 'Shiro', yang membuat mereka semua terlunjak kaget. 'Shiro' yang dibungkus cahaya biru itu, mulai menutup mata, dan perlahan tubuhnya mulai menghilang.
"Oi!" seru Ren yang kebingungan. "Lex, Frey!! Hentikan!! Dia bisa..!"
"..tanganku... khh...!" Lexy berusaha mengatupkan telapaknya, tapi percuma, begitu pula dengan Frey.
"Tugasku selesai," ucap 'Shiro' tiba - tiba pada Ren. Dengan sedikit kesadaran yang masih ada, 'Shiro' cuma bisa mengucapkan, "Selamat tinggal." Perpisahan yang sama sekali tidak diduga oleh kelima bocah yang kedua bola matanya hanya bisa terbelalak ketakutan.
Tanpa komando, kereta putih itu akhirnya mulai bergerak maju. Angin yang masuk dari jendela gerbong, membawa sisa - sisa 'Shiro' meninggalkan gerbong penumpang. Meninggalkan Freya dan Mir yang menangis kencang seiring laju kereta.
Posted by
Anonymous
at
12:24 AM
0
comments
Labels: asterisk
Tuesday, October 28, 2008
Your Name Never Gone -- Eternia
Lexy akhirnya sadar juga, dan pemandangan yang dilihatnya membuat ia merasa ingin pingsan lagi. Gedung Pertemuan para Lights yang tadinya masih sedikit gagah berdiri, kini sudah tinggal puing - puing. Keempat kawannya tergeletak tidak karuan karena tidak sadarkan diri. Kelima Partners yang tadi baru saja ia bawa kembali dari dalam bangunan itu, kini tidak tampak satu pun. Bahkan Phoenix yang tadi sempat terkulai di tangannya, kini sudah tidak ada lagi.
Samar - samar dari dalam kabut, Lexy bisa melihat dua sosok tinggi besar di depannya. Tom dan Eternia. Shiro yang tadi masih di tangan Tom, kini sudah tergeletak di bawah kakinya. Seiring kabut yang menghilang, sosok Eternia pun ikut terkikis sedikit demi sedikit.
"..selesai.." ujar Tom lirih. Lexy tidak mengerti. Nada suara Tom sama sekali tidak menunjukkan rasa senang karena sudah berhasil menundukkan kelima bocah yang tadinya berdiri tegap di depannya.
Sambil berusaha menopang tubuhnya sendiri, Lexy menghampiri keempat bocah lain yang masih tersungkur lemas. Tidak butuh waktu lama sampai mereka berlima kembali berdiri di atas kaki masing - masing.
Tidak ada yang bersuara satu pun. Tom masih saja memalingkan wajahnya ke tubuh Shiro di sebelah kaki kanannya. Perlahan, ia mulai mengangkat tubuh kawannya itu. Kereta hitam yang biasa mereka tumpangi segera muncul mengambang di atas puing - puing bangunan. Seolah ada rel yang tidak terlihat di sana.
Tepat sebelum kereta bergerak maju, Tom menoleh, dan untuk pertama kalinya setelah ia berpisah dari kelima bocah tersebut, ia memasang 'senyum miris' nya yang biasa. Saat itu, kelima bocah itu seperti mengerti kenapa Tom melakukan semua itu, walaupun isi kepala mereka masih sama sekali kosong.
Frey menoleh kaget saat ia mendengar suara langkah kaki dari belakang mereka. Nightmare berbentuk Shiro berdiri dengan pandangan kosongnya yang biasa.
"..'Shiro' bilang.. kalian harus naik ke kereta.." ujarnya dengan suara ala Shiro.
Mir merasa ragu, tapi Lexy yang melangkah maju, membuat keempat bocah yang lain yakin dan mengikuti 'Shiro' di depan mereka. Kereta putih masih berdiri tegak di stasiun Klaudi, seakan tidak terpengaruh kejadian barusan.
Di dalam gerbong, kelima bocah itu hanya terduduk lemas, sambil memandang ke luar jendela. Semua yang baru saja terjadi bagaikan mimpi. Tujuan mereka ke sini adalah menyelamatkan Tom. Tapi yang ingin mereka selamatkan malah membahayakan Shiro dan diri mereka sendiri. Padahal mereka tadi sudah bertemu dengan Inuki dan yang lain, dan mereka mengira setelah ini, mereka bisa kembali pergi ke kota lain bersama Partner mereka masing - masing.
Semua pikiran itu runtuh dalam seketika. Runtuh di hadapan Shadow Tom, Eternia.
Posted by
Anonymous
at
9:50 AM
0
comments
Labels: asterisk
Saturday, October 18, 2008
Your Name Never Gone -- Shadow
Frey sudah akan mengambil Shiro kembali, tapi mata Tom yang menatap matanya membuat Frey tidak berkutik.
"Ngapain kalian ke sini? Waktu itu aku sudah mengirim kalian pulang 'kan?"
"Tugas kami belum selesai.." jawab Ren pelan.
"Ho? Memangnya kalian punya tugas apa? Membasmi Shadow? Heh, jangan buat aku tertawa!"
Freya masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Akal sehatnya masih tidak mau percaya bahwa orang di depannya itu adalah Tom. Freya tidak mau percaya bahwa kata - kata tadi baru saja diucapkan oleh Tom.
"Shiro!" panggil Mir saat ia melihatnya mulai membuka mata.
"..cih..." gumam Shiro sambil mengangkat kepalanya ke arah Tom. "Oi.. Lepaskan ak-argghhhhhh!!!" Shiro menjerit sekuat - kuatnya saat Tom mencengkeram lengannya yang setengah patah tulang itu.
Mir dan Freya langsung menutup kedua telinga mereka. Ren dan Frey hanya bisa terpaku. Tidak tau harus berbuat apa. Frey takut Tom akan menyakiti Shiro kalau ia berbuat macam - macam. Sementara itu, Shiro tampaknya kembali kehilangan setengah kesadarannya, walaupun kelopak matanya masih sedikit terbuka.
Masih dengan tatapan sinisnya, Tom menatap Lexy yang terkulai tak berdaya.
"Kasian.. liat teman kalian itu. Cuma gara - gara ia sedikit kuat, langsung saja ia main menyerang 'makhluk' ini. Liat baik - baik. Ini Shadow yang lebih kuat dari Nightmare. Eternia."
Seiring kata terakhir yang diucapkan Tom, Eternia, Nightmare II yang ditakutkan kelima bocah itu, mulai menggaungkan teriakannya. Dengan gemetar, tangan kanan Frey kembali terulur ke depan.
'..Mundur..' gumam Rabi yang langsung maju ke depan Frey. 'Kali ini, kami yang akan bertarung..' ujarnya, diikuti Inuki dan Guri yang berbaris rapi di depan Frey dan Ren.
Belum sempat Frey menghentikan mereka, ketiganya sudah menyerbu Eternia, diikuti Phoenix dan Brownie yang muncul dari belakang. Cahaya putih menyilaukan mata membuat keempat bocah itu mengangkat kedua tangannya menutupi kepala mereka. Diiringi suara debaman keras, kabut tebal mulai menyelimuti Klaudi Town.
Posted by
Anonymous
at
11:34 AM
1 comments
Labels: asterisk
Monday, October 13, 2008
Your Name Never Gone -- Nightmare II
"Udah ah, ayo susul dia!" Freya akhirnya tidak betah juga melihat Frey yang setengah - setengah. "Mau dia ngambek kek, ngomel kek, daripada dia balik ke sini tanpa nyawa?!"
'Mir!' Brownie menyeruak keluar dari dalam bangunan, dan Mir langsung memeluk elang coklat di depannya itu. Tidak butuh waktu lama buat Frey dan yang lain untuk melihat Partners mereka masing - masing, yang sedang menarik tubuh Lexy.
Ren dan Frey dengan gesit langsung mengambil alih peran Guri, Inuki dan Rabi yang berusaha membawa Lexy dengan susah payah. Bocah yang biasanya paling berisik itu, kini dilumuri darah segar yang mengalir dari ujung keningnya. Sekujur tubuhnya yang penuh luka sabetan mulai dingin dan bergetar hebat.
"Lex, bertahanlah.." gumam Ren. Freya dan Mir ikutan nimbrung dan segera membalut beberapa luka Lexy, sementara Brownie mengeluarkan tenaga penyembuhnya agar lukanya cepat menutup.
"Apa yang terjadi?" tanya Frey pada Phoenix yang akhirnya muncul juga dan terbang lemas di depannya.
'....Night...mare..' Phoenix terbang rendah dan mendarat di sebelah Lexy. '..Tom..dan Nightmarenya.. Lexy me-'
Keempat bocah itu menoleh panik saat pintu di depan mereka roboh begitu saja. Rabi langsung mencabut pedangnya. Inuki menggeram galak. Sementara Guri berjaga malas seperti biasa. Sosok monster yang sedikit berbeda dengan Nightmare segera muncul dari depan pintu. Tingginya hanya seperti orang dewasa. Tapi sorot mata emasnya cukup untuk membuat mereka semua diam tak bergerak.
Tanpa dikomando, Frey melontarkan sinar biru dari tangannya. Walaupun mengenai Nightmare II itu tepat di dadanya, tapi yang dihantam sama sekali tidak bergerak. Sama sekali tidak merasakan apa pun.
"Sia - sia.."
Suara yang begitu dikenal kelimat bocah itu bergema dari dalam bangunan. Diikuti sosoknya yang membuat mereka merinding. Tom.
Posted by
Anonymous
at
5:55 PM
0
comments
Labels: asterisk
Your Name Never Gone -- Partners
Sementara Shiro sudah masuk jauh ke dalam, Frey dan yang lain memutuskan untuk berkumpul sebentar di depan, berusaha menebak - nebak apa yang sudah terjadi pada Klaudi.
"Apa mungkin Tom mengamuk lalu menghancurkan satu kota?" ujar Mir yang langsung ditepis oleh Ren.
"Ini Tom, mana mungkin sih dia melibatkan orang lain. Memang sih orang lain di sini itu Lights semua, tapi sepertinya Tom nggak sebrutal itu."
"Hmm... kalau begitu..." Mir menimbang - nimbang mencari penjelasan lain.
"Nightmare..?" celetuk Freya sambil menatap kereta mereka yang ada di ujung sana. Frey mengangkat bahu.
"Mungkin. Nightmare yang pertama aja dari Shiro 'kan? Mungkin Mereka melakukan hal yang sama pada Tom, jadi ada Nightmare lagi, tapi yang kali ini jadi brutal."Frey manggut - manggut mengiyakan kesimpulannya sendiri.
Lexy yang biasanya sedikit cerewet masalah beginian, kali ini hanya diam saja. Ia sepertinya tertarik untuk masuk dan menyelidiki lebih lanjut, tapi selama keempat bocah yang lain tidak mau masuk, maka tidak ada satu pun yang masuk, begitu peraturan yang dibuat Frey barusan.
"Aku tidak mau ada yang kepisah lagi."
Entah dari mana munculnya, tiba - tiba dari atap gedung pertemuan itu muncul meteor yang meledakkan sebagian bangunan bagian belakang. Mata kelimanya terbelalak. Di dalam masih ada Shiro. Dengan nekad, Lexy berlari memasuki bangunan di depannya. Frey sempat menahan tangan Lexy, tapi segera melepasnya kembali saat Lexy berbisik lirih.
"Lepaskan tanganku.." Suara Lexy tidak seperti biasanya, dan hal itu membuat Frey sedikit merinding. "Kalian jangan ikut masuk. Tunggu saja di sini."
Tanpa ada yang membantah lagi, Lexy sudah hilang di antara pilar - pilar di dalam gedung. Seolah tau arah yang dituju, kaki Lexy membawanya melangkah ke ruangan kecil di balik lemari - lemari buku yang menjulang tinggi di tengah gedung. Sepasang meja dan kursi masih saja berdiri tegak di sana, seolah tidak terpengaruh kejadian di luar sana. Lexy tidak langsung duduk di kursi. Ia melangkah ke bagian belakang ruangan. Seperti sulap, tangan Lexy menekan sebuah tombol yang sama sekali tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
Suara 'klik' pelan disambut dengan gerakan dinding di depannya yang terbuka perlahan. Sinar menyilaukan membuat Lexy memicingkan matanya. Saat mata Lexy sudah mulai terbiasa, ia mendengar suara yang sangat dirindukannya. Pekikan Phoenix yang disambut hembusan angin membuat Lexy menoleh ke belakang.
'Lex..'
"Yo." Tangan Lexy terulur sambil membelai Phoenix yang terbang rendah di depannya. Phoenix sudah akan bertengger di bahu Lexy, sampai tiba - tiba bocah di depannya jatuh tertubruk. Guri dan Inuki menindih badan Lexy sambil meloncat kegirangan. Sementara Brownie terbang pelan dengan Rabi mendampinginya. Lexy cuman menggerutu 'Ouch!" dan detik berikutnya ia sudah tersenyum puas karena sudah mendapat 'Jackpot'.
Tapi Jackpot nya bukan hanya itu saja..
Posted by
Anonymous
at
10:29 AM
0
comments
Labels: asterisk
Sunday, October 12, 2008
Your Name Never Gone -- Nightmare
"Ayo cepat!!"
Freya dan yang lain cuma bisa mengangguk dan menyusulnya. Ini pertama kalinya mereka melihat Shiro yang emosi bukan main. Biasanya ia malah tidak memperlihatkannya sama sekali.
Setelah mereka masuk ke bangunan yang menjulang tinggi di depan, Frey tiba - tiba menyadari sesuatu.
"Ini kan Mansion of the Beginning? Ingat 'kan? Yang waktu itu."
Keempat bocah yang lain cuman manggut - manggut membenarkan. Shiro tanpa mendengarkan kata - kata Frey langsung menaiki tangga spiral di depannya. Melewati koridor panjang, dan berhenti di depan sebuah pintu yang menjulang tinggi di depan keenamnya. Setelah mengambil nafas dalam - dalam, Shiro akhirnya membuka pintu itu, dan masih belum hilang dari ingatan Frey dan Lexy, sosok monster tinggi besar yang nyaris membuat mereka kehilangan nyawa. Nightmare.
Dengan sedikit terpaksa, kelima bocah itu mengikuti Shiro yang menghampiri sang monster dan menatapnya lekat - lekat.
"Aku butuh bantuan mu..." bisiknya pelan, dan Nightmare mulai bergerak. Kelima bocah di belakang Shiro hanya bisa mundur perlahan. Tanpa Partners yang mendampingi mereka, kembali melawan Nightmare sama saja dengan bunuh diri. Mereka cuma bisa berharap Shiro tau apa yang ia lakukan.
Berbeda dengan Nightmare sebelumnya, Nightmare kali ini bukannya semakin membesar, tapi malah menyusut, sampai seukuran tubuh Shiro. Sosoknya yang tampak seperti monster pun kali ini tidak ada lagi. Digantikan dengan sosok manusia, yang wajahnya hampir menyerupai Shiro.
"Antar kami ke Klaudi," perintah Shiro pada 'kembaran'nya itu. Nightmare di depan Shiro itu hanya memejamkan matanya, dan kereta hitam milik Tom berdiri tegak di belakang mereka. Persis saat mereka akan melarikan diri dan meninggalkan Shiro, Frey dan Lexy.
Kedua Shiro memasuki kereta itu, dan mau tidak mau Frey dan yang lain pun mengikuti.
"Kenapa tidak naik kereta putih mu itu?" tanya Lexy setelah kereta hitam itu akhirnya melaju. Shiro bukannya menjawab, tapi malah bungkam, sambil memalingkan wajahnya ke luar jendela. Padahal pemandangan di sekitar mereka hanya hitam pekat. Sama sekali tidak terlihat apapun.
Tidak sampai 10 menit, kereta mereka terhenti, dan saat pintu gerbong dibuka, pemandangan Klaudi yang dilimuti kegelapan pekat menyambut mereka. Sama sekali tidak ada cahaya dari lampu jalan yang dulu menyinari tiap sudut kota. Bangunan - bangunan yang dulu membuat mereka terpana, sudah tidak berdiri tegak lagi. Semuanya hancur berantakan. Jalanan mulus tanpa kerikil, saat ini bahkan untuk kaki melangkah saja sudah nyaris tidak ada tempat.
Shiro sama sekali tidak mempedulikan semua itu. Ia melangkah pasti, menuju ke ujung kota, di mana satu bangunan masih berdiri tegak tanpa cacat. Gedung pertemuan para Lights. Ren akhirnya memimpin yang lain untuk mengikuti Shiro, sementara 'kembaran'nya tetap berada di dalam kereta.
Posted by
Anonymous
at
11:42 PM
0
comments
Labels: asterisk
Friday, October 10, 2008
Us -- Accidentally Rejoined
"Aku tidak mendengar apa pun... ya 'kan?" gumam Mir sambil menatap tidak percaya ujung gerbong masinis yang bergerak mendekati kelima bocah tersebut. Bukan kereta hitam seperti yang mereka harapkan, melainkan kereta putih yang mereka yakin tidak akan mereka lihat lagi.
Shiro tampak menghambur keluar dari gerbong masinis. Kondisinya tampak aneh, membuat kelima bocah itu akhirnya menghampiri Shiro sambil menunda pertanyaan - pertanyaan yang sudah mereka simpan. Tubuh Shiro terasa dingin. Sedingin es. Sama sekali tidak ada kehangatan yang biasanya mengalir di tubuh manusia. Ujung jarinya terus bergetar, dan pandangan matanya tampak sedikit kabur.
"Shiro..?" panggil Lexy pelan. "Kau.. baik - baik saja?"
"Masuk ke dalam..!" Kelima bocah itu saling berpandangan, sebelum akhirnya mereka bergegas saat Shiro membentak, "CEPAT!!"
Cuma dalam waktu kurang dari 1 menit, kereta putih itu sudah melaju kencang lagi, dan pemandangan di kanan kiri mereka langsung berganti. Bukan lagi Sands of Time, tapi Sunset Town.
"Err.. rasanya kita baru saja pindah tempat..?" ujar Freya sambil memastikan bahwa matanya tidak terganggu.
Shiro bergabung dengan kelima bocah itu tak lama kemudian, dan Frey langsung melemparkan pertanyaan padanya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau tiba - tiba muncul setelah menelantarkan kami di rumah Ren?"
"Tolong, bukan saatnya untuk itu," Shiro tampak tidak sabar. "Tom.. Mereka membawa dia pergi..!"
"Ha? Siapa, ke mana?" sambar Lexy.
"LIGHTS!!" Dan Shiro tampak menyesal telah meneriakkan kata tersebut. "Maaf.. bukan maksudku.. ouwhh.." Sambil menelungkupkan kepalanya ke dalam kedua tangannya, Shiro terduduk lemas di sebelah Frey.
"Kami tidak akan membantumu kalau kau tidak cerita apa yang sebenarnya terjadi. Gimana?"
Setelah menghela nafas untuk kesekian kalinya, Shiro akhirnya buka mulut juga. 'Tujuan' Tom saat meninggalkan mereka semua di rumah Ren adalah memulangkan mereka. Begitu Ren dan Mir memasuki rumah, maka Frey, Freya dan Lexy secara otomatis akan terlempar ke Eve's Corner, begitu selanjutnya.
"Tapi kami-, aku, tidak berani masuk ke dalam rumah.."
Shiro berhenti sejenak dan melanjutkan kembali ceritanya. Setelah mereka berpisah, Tom dan Shiro bermaksud kembali ke Klaudi, 'menyelesaikan masalah yang belum selesai' dengan para Lights. Tapi justru itulah kesalahan terbesar yang mereka lakukan. Belum sampai setengah perjalanan menuju Klaudi, tiba - tiba kereta hitam Tom terguling ke samping. Tidak tampak ada tenaga yang mendorong kereta tersebut, dan tidak ada pula sesosok apa pun di sekitar mereka. Detik berikutnya, sebuah gerbong penumpang dengan Shiro di dalamnya, dipentalkan ke Plain of Illusion.
"..Itu tenaga terakhir yang dipakai Tom. Atau mungkin malah.. jiwa terakhirnya.."
Kereta putih itu berhenti di depan penginapan tempat kelima bocah itu pertama kali datang. Sepasang kakek dan nenek yang mereka kenal, tampak menyambut kedatangan mereka dengan kebingungan.
"Ada apa ini? Mana Tom?" tanya si nenek sambil memegang lampu minyak di tangan kirinya.
"Mau apa kita ke sini?" bisik Frey pada Shiro yang wajahnya masih saja tampak panik. Tanpa menjelaskan apa pun, Shiro menyeruak masuk ke dalam penginapan dan mulai mengobrak - abrik lemari tua di belakang meja penerima tamu.
Freya sibuk menjelaskan kepada pasangan tua itu tentang apa yang terjadi. Mereka hanya manggut - manggut, dan tampak sama sekali tidak terganggu melihat lemari di depan mereka itu berantakan. Beberapa menit kemudian, Shiro mendekap snowglobe yang lumayan besar. Tanpa mengucap kata permisi pada yang punya penginapan, Shiro langsung mengkomandokan kelima bocah itu untuk kembali naik ke kereta.
Sekali lagi, Freya dan yang lain meminta maaf pada pemilik penginapan yang cuma tersenyum.
"Hati - hati di jalan ya," pesan si kakek, sebelum akhirnya kereta kembali melaju, dan Shiro memberi komando sekali lagi.
"Pegangan yang kencang, jangan sampai terpental dari kereta."
Sinar memancar dari snowglobe di tangan Shiro, dan seperti yang terjadi di Eve's Corner, Shiro dan kelima bocah itu tersedot masuk ke dalamnya.
Posted by
Anonymous
at
10:35 AM
0
comments
Labels: asterisk
Tuesday, September 23, 2008
Us -- Frey and All of Them
Frey melangkah ke hamparan pasir di depan matanya. Sambil masih terdiam, ia mengambil sejumlah pasir yang di depan kakinya, merasakannya perlahan, dan berharap ia hanya bermimpi. Lexy yang kemudian menghampiri dan meremas bahu Frey. Berusaha menenangkan 'pimpinan' mereka itu.
"Aku sama sekali tidak merasakan apa pun.." gumam Frey akhirnya. "Sama sekali tidak ingat.. dan sama sekali tidak tau kapan kita tertidur, atau apa pun itu."
"Hei.. itu bukan tanggung jawab mu 'kan? Kita semua, masing - masing dari kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Jadi bukan salah mu kalau tiba - tiba kita 'terlempar' lagi ke padang pasir ini."
Tapi Frey terlihat tidak puas dengan balasan Lexy. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Lexy yang tau hal itu, langsung mundur dan menyerahkan Frey pada Freya.
Pemandangan di depan mata mereka memang begitu tidak enak dipandang. Padang pasir luas, tanpa sinar matahari yang menyengat, tanpa angin. Tapi penuh dengan potongan - potongan, baik itu potongan tanaman, perkakas, bahkan tubuh manusia. Sama sekali bukan pemandangan yang layak dilihat oleh kelima bocah itu.
Mir yang tidak tahan melihat hal seperti itu, cuma bisa duduk tertunduk sambil memegangi lengan baju Ren. Di sebelah mereka, Lexy memasang mata tajam ke sekelilingnya, entah mencari apa, yang jelas ia begitu tertarik pada tempat ini. Sampai sejauh ini, tempat yang mereka kunjungi adalah tempat di mana mereka dulu tinggal. Rumah Ren dan Mir, Eve Corner miliknya, terakhir adalah kamar Freya.
"Hei, Frey..." panggil Lexy. "Kau.. yakin tidak mau bercerita?"
"Ngomong apa kau Lex? Ini bukan saat nya untuk itu tau-" omel Ren, yang langsung dihentikan oleh Lexy.
Frey sama sekali tidak menjawab panggilan Lexy. Ia masih saja berlutut sambil memainkan pasir di dekat kakinya. Freya yang sepertinya tau apa maksud Lexy, langsung memeluk kembarannya itu dengan lembut.
"Tempat ini.. adalah Sands of Time." ujar Frey akhirnya setelah melepas pelukan Freya. "Semua yang hilang termakan oleh waktu, akan dipindahkan, atau tepatnya, dibuang ke tempat ini."
"Apa hubungan tempat ini denganmu?" selidik Lexy.
"... di tempat ini... aku membuang 'rasa percaya'..." Jawaban Frey tidak memberi penjelasan apapun, tapi Lexy tetap diam, menunggu lanjutannya. Dan Frey segera bercerita kembali.
Kejadian itu terjadi 3 tahun yang lalu, saat Frey pertama kali 'melarikan diri'. Demi membawa Frey kembali ke rumah, kedua orang tuanya rela melakukan apapun. Termasuk membawa nama Freya. Satu kali, mereka membawa kabar bahwa 'perusahaan' bangkrut, dan mereka tidak tau harus berbuat apa. Tapi Frey tidak terisolasi dengan dunia luar, sehingga ia tau bahwa kedua orang tuanya cuman bohong.
Dua kali, saat Frey sedang pulang ke rumah, ia tiba - tiba dikunci di kamarnya sendiri. Dan sekali lagi, Frey bisa lolos, lewat jendela kamarnya yang terhubung ke kamar Freya. Sampai saat itu, Frey masih mengira bahwa itu hanya keusilan kedua orang tuanya saja. Sampai insiden terakhir terjadi.
Saat itu, Frey baru saja membelikan HP untuk Freya, dan suatu keharusan bahwa HP itu harus selalu aktif. Suatu kali, Frey sama sekali tidak bisa menghubungi Freya. Insting nya pun mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Tepat saat itu, kedua orang tuanya kembali datang. Freya kecelakaan. Begitu kata mereka. Dengan panik, Frey meluncur ke House Hospital. Tapi sebelum sampai di tempat, 'sesuatu' di dalam kepalanya memanggil berulang - ulang. Meminta Frey untuk pulang ke rumah.
Benar saja, Frey mendapati Freya kehabisan napas gara - gara kamarnya diisolasi. Oleh kedua orang tuanya. HP Freya disembunyikan, sehingga ia tidak bisa menghubungi siapa - siapa.
"Shock. Cuma itu yang kurasakan. Satu minggu berturut - turut aku terus berada di sebelah Freya, yang kubawa ke kontrakanku. Antara sadar dan tidak, hampir setiap hari aku melihat padang pasir ini. Sampai akhirnya aku mengerti, ini adalah tempat orang membuang sesuatu dalam dirinya. Dalam kasusku, aku membuang 'rasa percaya pada orang lain'. Terutama orang tua ku."
"Anehnya, walaupun aku tidak sadar, aku bisa melihat apa yang dilihat Frey," lanjut Freya. "Makanya aku tidak heran saat melihat Sands of Time ini."
"Apa aku juga bisa membuang sesuatu di sini?" tanya Ren memecah keheningan. Frey cuma mengangguk. "Aku ingin membuang 'rasa takut'." Jawaban mantap Ren cukup untuk membuat Mir mengangkat kepalanya, dan mengatakan hal yang sama.
Frey cuma bisa tersenyum tipis. Berbagai pikiran buruk sudah memenuhi benaknya beberapa saat tadi. Membuang 'rasa percaya' sama saja dengan 'tidak percaya pada siapa pun'. Tapi nyatanya, ketiga temannya ini sama sekali tidak keberatan. Satu hal ini membuat Frey begitu nyaman, untuk yang pertama kalinya sejak 3 tahun yang lalu.
Posted by
Anonymous
at
9:58 PM
0
comments
Labels: asterisk
Saturday, September 13, 2008
Us -- Freya and All of Them
"Lagi..." gumam Lexy pasrah. "Sebenarnya apa yang terjadi sih..."
Yang lain cuma bisa duduk terdiam. Berbeda dengan Ren yang ketakutan di tempat asalnya, Freya tampak tenang - tenang saja. Malah ia seperti bernostalgia, melihat - lihat berbagai hiasan di atas mejanya, pakaian - pakaian di lemari nya, dan juga koleksi kaset game yang dulu sering dimainkan bersama Frey.
"Mum belum pulang ya?" tanya Frey, yang dijawab dengan gelengan kepala Freya.
"Kau tau lah.. Mum kan paling tidak betah di rumah. Jam segini sih, pasti lagi keluyuran entah ke mana dengan jaguarnya. Dad juga tidak mau tau lagi soal Mum. Terakhir kali aku di sini, sudah 2 minggu mereka tidak ngomong satu sama lain."
Frey menghela nafas sambil mengomel, "Masa aku lagi sih yang harus menengahi mereka.. Kan mereka sudah dewasa.. Hhhh..."
"Kalian ini sama sekali tidak khawatir ya.." sindir Lexy yang masih terduduk lemas. "Ren, ngomong sesuatu dong, dari Eve Corner diem mulu. Bosen tau!"
Ren cuma bisa memandang Lexy sinis. "Emangnya aku tukang ngelucu apa?" gerutunya, yang disambut kekehan Mir.
Beberapa saat kemudian, Freya mulai bercerita tentang orang tuanya yang lebih mementingkan Frey daripada dirinya. Frey pun tidak membantah, dan hanya bisa menepuk kepala adik kembarnya itu dengan penuh sayang. Pada dasarnya Freya memang anak yang pemberontak, bukan pemikir berkepala dingin seperti Frey, makanya ia pun hanya bisa menunjukkan sikap protesnya dengan cara ngambek, menolak semua keinginan orang tuanya.
Sedangkan Frey yang saat itu memilih melarikan diri dari kehidupan rumah, cuma bisa memberikan dukungan moral pada Freya secara diam - diam. Bahkan untuk menemui dan membawakan apa pun yang dibutuhkan Freya, Frey harus melakukannya di malam hari saat Freya sedang tidur.
Mir cuma bisa manggut - manggut mendengar cerita mereka. Ia tidak menyangka Freya yang selalu terlihat cengar cengir ternyata juga punya masalah sendiri. Lexy tampak tidak heran, karena masalah mereka hampir mirip. Reaksi tak diduga datang dari Ren, yang mengatakan bahwa ia bersyukur bahwa 'Ibu' nya tidak seperti itu.
"Sejelek apa pun kelakuan nya, tapi aku tetap masih bersyukur ada dia," gumam Ren. Untuk sekali ini, Lexy terlihat salut pada Ren.
"Aku sudah lama tidak pulang, aku mau liat - liat isi rumah ah. Ikut?" tawar Frey pada yang lain, dan berikutnya, mereka sudah mengadakan tur dalam rumah.
Rumah bagai istana itu punya ruangan yang banyak sekali, membuat Ren berkata untung dia tidak sendirian di sini, kalau tidak, mungkin dia bisa nyasar. Ruangan lain tidak kalah besar dengan kamar Freya, terutama kamar Frey, yang luasnya hampir 3 kali lipat besarnya.
Kelima bocah itu berhenti di taman belakang yang penuh dengan tanaman. Di ujung terdapat kolam renang dengan dudukan di pinggiran sekitarnya. Mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya menatap nanar ke arah langit. Berharap sesuatu turun dari langit, dan menjemput mereka ke dunia di mana masih ada Inuki, Phoenix, Brownie, Guri, dan Rabi.
"..Guri lagi ngapain yaaa..." gumam Freya lemas. "..Tom.. Shiro... mereka di mana yaa..." lanjutnya.
"Mereka pasti baik - baik saja." jawab Lexy mantap. "..pasti.."
Posted by
Anonymous
at
9:55 AM
0
comments
Labels: asterisk
Tuesday, September 9, 2008
Us -- Heather and All of Them
"Sejak kapan di sini? Kenapa tidak membangunkan ku?" tanya Lexy bertubi - tubi. "Lo, sudah kenal Ren?"
Heather mengangguk. "Tadi kami sedang ngobrol," lanjutnya. Lexy cuma manggut - manggut.
"Yang lain sudah kenal?" Heather menggeleng, dan dengan cepat Lexy mengenalkan Mir, Frey, dan Freya. Tidak seperti Lexy yang biasanya cool dan selalu diam, kalimat demi kalimat meluncur dari mulutnya. Mirip anak kecil yang bercerita dengan seru ke teman baiknya.
Heather memang masih kecil, ia bahkan lebih muda dari Freya, dan penampilan luarnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia adalah pimpinan Eve Corner. Ada aura yang tidak bisa dijelaskan memancar dari dirinya. Hal itulah yang membuat bahkan preman sekelas Gaku pun tunduk padanya. Tapi dibilang begitu, Heather malah tersipu malu.
Eve Corner di waktu siang benar - benar berbeda dengan malam hari saat mereka pertama kali datang. Semua lorong terlihat jelas, bahkan gorong - gorong yang biasa dipakai penghuninya untuk kabur saja terlihat jelas. Meskipun begitu, tidak ada satu orang polisi pun yang berani mengobrak - abrik Eve Corner di siang hari.
"Heather adalah penguasa Eve Corner di malam hari. Tapi di siang hari, Heather adalah Sun's Girl. Matahari di sini adalah sekutunya, dan kalau ada polisi macam - macam di sini, jangan tanya deh apa yang terjadi," terang Lexy panjang lebar, dan Heather cuma bisa menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Heather mengajak mereka berkeliling ke sekitar Eve Corner dan ke sudut - sudutnya. Dan sebagai penutup, ke tempat terakhir dari Eve Corner, Blanc Eve, alias tempat tongkrongan Heather seorang. Lexy cuma bisa termangu saat mereka melewati lorong yang tidak asing di matanya. Kakinya seperti susah maju, tapi begitu Heather bilang tidak apa - apa, akhirnya Lexy menurut.
Blanc Eve sama sekali tidak mengerikan, tapi memang berbeda dengan lorong yang lain. Pintu masuk nya mirip pintu kamar anak cewek, dan ternyata isi nya pun tidak jauh berbeda. Yang sedikit lain, ada tangga menuju ke atas, di mana Eve Corner bisa dilihat dengan sekali pandang.
"Apa itu?" Mir mendekati lemari kaca dengan banyak snow globe di dalamnya.
"Oh, itu koleksiku!" ujar Heather bangga. "Sejak penghuni sini tau aku mengkoleksinya, mereka jadi membawakannya untukku. Makanya jadi banyak seperti ini."
Mir manggut - manggut. Heather mengangguk ramah saat Freya bilang ingin liat semua koleksinya. Segera saja Freya dan Mir menyerobot ke lemari kaca di depan mereka. Sambil mengomel agar mereka hati - hati, Ren dan Lexy akhirnya ikut - ikutan juga. Frey tetap berdiri di tempatnya, sementara matanya menatap ke sebuah snow globe yang terletak di ujung meja. Secara reflek, Frey langsung mengangkat snow globe itu dan mengamatinya lekat - lekat.
"Itu kesayanganku lo," gumam Heather. Frey mengangguk pelan. Snow globe yang ini sedikit berbeda dengan yang lain. Isinya hanya perabot kamar anak cewek, lengkap dengan tempat tidur, lemari, meja belajar, bahkan boneka - boneka di ujung snow globe. "Dulu, itu adalah kamar sepasang anak kembar," lanjut Heather, membuat Frey mengerutkan keningnya. "Tapi tidak berapa lama kemudian, sepasang anak kembar itu tidak lagi sekamar. Mereka memisahkan diri secara fisik. Tidak saling bertemu, tidak saling bicara. Tapi pikiran mereka masih terhubung satu sama lain."
Freya yang tadinya masih berkutat dengan Mir, sekarang sudah berdiri di sebelah Frey, ikut melihat snow globe yang dipegang saudara kembarnya itu. Isi di dalam snow globe itu mulai berubah. Persis seperti klip video, memutarkan cerita yang tadi diucapkan Heather.
"Saat ini sepasang anak kembar itu sedang melakukan perjalanan. Tapi, setengah jiwa dari salah satunya tetap tertinggal di kamar yang dulu mereka huni. Ia tidak mau pergi meninggalkan kamar di mana mereka dulu bisa bermain bersama, berbagi semuanya berdua, dan melakukan hal - hal yang mereka suka bersama."
"..Heather..?" Lexy mulai menyadari ada sesuatu yang aneh pada Heather. Tidak biasanya ia ngelantur begini. Tapi sama sekali tidak ada yang berubah darinya. Ren dan Mir memutuskan untuk ikut melihat snow globe di tangan Frey.
Sekeliling mereka mulai bergetar. Tapi lantai tempat mereka berpijak sama sekali tidak bergeming. Bangunan - bangunan di sekitar Eve Corner mulai tersedot masuk ke dalam snow globe di tangan Frey.
"..! Sama seperti waktu itu!" gumam Lexy panik. "Heather! Apa yang terjadi?!"
Tapi yang ditanya cuma tersenyum manis sambil berkata, "Sudah waktunya. Kalian harus pergi lagi. Tenang saja, kalian pasti baik - baik saja. Terutama kau, Lex." Heather mengatupkan kedua tangannya ke tangan Lexy.
Keempat bocah yang lain seperti terhipnotis ke dalam gambaran yang muncul di snow globe itu. Mereka sama sekali tidak sadar apa yang terjadi di sekitarnya.
"Jaga diri ya," ucap Heather terakhir kalinya, sambil mengecup kening Lexy.
Posted by
Anonymous
at
10:05 PM
0
comments
Labels: asterisk
Saturday, September 6, 2008
Us -- Heather and Ren
Siluet seseorang yang tiba - tiba muncul di depan pintu masuk, tidak membuat Ren kaget sama sekali. Malah ia terlihat lebih kalem daripada biasanya. Ren menatap sosok di depannya sambil tersenyum seolah ia mengenal anak perempuan itu.
"..Heather.. ya 'kan?" ucap Ren pelan. Yang dipanggil cuma mengangguk sambil memasang senyum manis.
"Lex masih tidur?" tanya Heather dengan suara nyaringnya, dan ia cuma bisa terkekeh geli saat melihat wajah polos Lexy dengan mulut yang setengah terbuka dan suara dengkur pelan.
Mata Ren tidak bisa lepas dari Heather. Entah kenapa, ia merasa bahwa Heather adalah orang yang sudah sangat lama ingin ditemuinya. Sudah dari duluuuu ia ingin bertemu, dan akhirnya mereka berhadapan satu sama lain. Heather pun sepertinya merasakan hal yang sama. Senyumnya kembali terkembang saat matanya menatap Ren.
Memberanikan diri, Ren bercerita tentang dirinya. Bagaimana ia bisa menemukan Inuki, kabur dari rumah, bertemu Lexy dan yang lain, kereta hitam Tom, pergi ke Klaudi, bertemu dengan Shiro, melawan Nightmare. Lalu, walaupun itu hal yang paling sering dihindarinya, Ren menceritakan tentang Ibu nya yang ia temui sebelum ia sampai di sini. Heather cuma manggut - manggut, dan berikutnya, giliran dia yang bercerita.
"Waktu aku masih 5 taun, aku mulai bisa melihat hal - hal yang bahkan orang tua ku pun tak mengerti. Kabut hitam dan putih terlihat berjalan berdampingan dengan orang - orang yang kukenal. Saat itu aku masih belum bisa melihat dengan jelas, dan saat akhirnya kabut itu mulai terlihat jelas.."
Ren mendekatkan wajahnya sambil membuka kupingnya lebar - lebar.
"...aku melihatmu," ucap Heather dengan mata berbinar. "Rumah reyot di padang rumput gersang, kamar gudang penuh tumpukan dus, sofa tua bulukan," Heather berhenti sebentar. "..dan 'Ibu'.."
Kali ini, Ren sama sekali tidak bergidik ngeri seperti biasanya, dan ia seperti menanti kelanjutan dari cerita Heather.
"Aku menemukanmu.. di Eve Corner ini. Ah, waktu itu bahkan tempat ini belum bernama. Bayanganmu terlihat di mana - mana. Semua kejadian yang kau alami, aku bisa melihatnya dengan jelas, tapi tak ada yang bisa kuperbuat. Hal terakhir yang kulihat adalah saat kau pergi untuk menjemput Inuki. Ada hal yang lain daripada biasanya waktu itu. Walaupun seharusnya aku cuma bisa melihat kejadian yang ada kau di dalamnya, tapi waktu itu, pandanganku tetap berada di rumah. Sesaat setelah kau menutup pintu.. 'Ibu' berdiri di bawah tangga. Ia melihat mu pergi dari balik jendela."
"..mana mungkin.." Ren terkekeh pelan, tapi Heather tidak memasang muka sedang bercanda.
"Sayangnya.. yang dilihatnya dari balik jendela itu bukan kau.. tapi aku." Heather menyelesaikan kalimatnya. "Memang mengerikan yah? Hehehe..."
Ren cuma bisa mengangguk. Masih menunggu Heather, apakah ia masih punya lanjutan cerita atau tidak.
"..Aku tidak tau apa yang terjadi.. tapi aku melihat saat kalian 'pindah' ke sini. Kereta hitam dengan 2 orang yang kalau tidak salah.. Tom dan Shiro ya? Mereka membawa kalian dari tempat itu, dan 'melempar' kalian ke sini."
"Ooh.. ternyata mereka yah.. Apa kau melihat Inuki dan yang lain?" Heather menggeleng, dan itu membuat Ren sedikit kecewa.
Heather melambaikan tangannya, dan suara yang sangat dikenal Ren bergema di tempat itu.
"Heather!!"
Posted by
Anonymous
at
12:09 AM
0
comments
Labels: asterisk
Monday, September 1, 2008
Us -- Lexy and All of Them
"Ho, kau sudah pulang?"
Yang dipanggil cuma bisa melongo sambil masih terduduk lemas. Pemandangan di sekitar mereka berubah. Tidak ada lagi rumah reyot, rerumputan gersang, dan tidak ada lagi 'Ibu'. Bangunan - bangunan tinggi menjulang di sekitar mereka, dan jelas sekali Lexy mengenali tempat itu, dan juga orang - orang yang menyambutnya tadi.
"Ngapain kau masih duduk di sana? Ayo berdiri!"
Setengah kebingungan, Lexy mengikuti saran Gaku, orang yang menyuruhnya berdiri sambil mengulurkan tangan dari antara kerumunan. Sambil menoleh ke arah Frey dan Freya yang kebingungan, Lexy menjelaskan bahwa Eve Corner ini adalah tempat nongkrongnya sehari - hari. Mir mendengarkan, sambil berusaha menyadarkan Ren yang pandangannya masih saja kosong.
Gaku membawa mereka berlima ke sudut yang lebih dalam, tempat di mana Lexy biasanya tidur - tiduran setelah 'berlatih' dengan gerombolan yang lain. Lexy berterima kasih, setengah batinnya ingin sekali ikut dengan Gaku ke tempat Heather, penguasa Eve Corner, yang sekaligus juga teman baik Lexy. Tapi Lexy mengurungkan niatnya, setelah Gaku langsung meninggalkannya tanpa berkata apa pun.
"Gimana Ren?" tanya Lexy. Mir menyingkir sehingga Lexy bisa melihat langsung. Pandangan mata Ren mulai kembali, tapi masih terlihat raut wajahnya yang ketakutan.
"Aku.. sudah tidak apa - apa kok.." jawabnya, yang langsung mendapat cibiran dari Lexy yang menuding Ren cuma berlagak kuat. Tentu saja, Frey langsung menggeplaknya.
Tanpa basa basi, Lexy menjelaskan tentang tempat ini setelah ia melihat pandangan mata Freya yang berbinar. Eve Corner adalah tempat pelariannya dari rumah, sekolah, dan juga orang tuanya. Kesan pertama, tentu saja ini adalah tempat tongkrongan mafia dan kroni nya, tapi menurut Lex, ini adalah rumah bagi orang - orang yang tidak punya tujuan.
"Kenapa namanya Eve?"
"Boss Heather kan cewe," gumam Lexy dan segera keempat bocah yang lain berdecak kagum.
"Tapi ngomong - ngomong," Frey memecah keheningan. "Apa yang terjadi? Kenapa kita bisa sampai di sini?" Yang lain cuma mengangkat bahu. Mereka lupa sama sekali dengan kejadian sebelumnya gara - gara terpesona melihat Eve Corner.
Mir tadinya tidak mau buka mulut, tapi setelah dipaksa Freya, ia akhirnya cerita juga. Hal terakhir yang diingatnya adalah bongkahan kayu yang diangkat tepat di atas kepalanya. Detik berikutnya, bayangan 'Ibu' di depannya mulai kabur. Rumah reyot itu pun mulai hilang, diikuti padang rumput gersang di sekitar mereka. Mir tidak sanggup lagi melihat, dan saat ia membuka mata, di sinilah mereka berada.
"Sama seperti waktu di kereta..." Giliran Ren yang buka mulut. "Hal terakhir yang kulihat adalah tangan Tom. Setelah itu pemandangan berikutnya adalah..." Tidak perlu dilanjutkan, mereka semua sudah tau.
"Yaahh... yang penting sekarang semua selamat 'kan? Ayo tidur! Kita semua butuh istirahat, ya 'kan?" Dan tanpa lama, Lexy langsung merebahkan tubuhnya di sofa reyot terdekat.
"Cuih, bilang aja klo emang ngantuk," gumam Freya sambil menjauh menghindari sambitan Lexy.
Tidak butuh waktu lama, dan menit berikutnya kelima bocah itu sudah menutup mata mereka. Berusaha menghilangkan ingatan akan kejadian buruk yang baru saja mereka alami.
Posted by
Anonymous
at
3:10 PM
0
comments
Labels: asterisk
