Tuesday, June 16, 2009

Now or Never -- Five Kids on the Edge

Pancaran cahaya dari tangan Ren, Frey, dan Lexy menghantam Asterisk tepat di bagian dada. Sayang, serangan yang sampai membuat Shiro, Tom, Freya dan Mir menutup mata itu sama sekali tidak memberikan perlawanan yang berarti.

Asterisk yang wajahnya kali ini meminjam muka Lexy tidak lagi berdiam diri. Ia membalas semua serangan yang ditujukan padanya, membuat setiap Partner harus melindungi majikan mereka masing - masing agar tidak terkena serangan si monster.

"Che.. Makin ganas aja dia.."

"Lex! Tetap fokus!" Frey memperingati Lexy yang tampak kehilangan konsentrasi.

"Cerewet..! Aku tau kok...!"

"Bukan saatnya bertengkar 'kan.." sela Ren dengan sedikit takut karena keduanya langsung melirik tajam.

"FREY!!"

Teriakan Freya membuat ketiganya serempak melontarkan serangan beruntung ke arah Asterisk yang juga mengeluarkan serangan ke arah mereka bertiga. Kilatan cahaya yang muncul akibat tabrakan kedua macam serangan tersebut mementalkan kedua belah kubu, baik para bocah dan si monster itu sendiri.

Ren merasakan lengannya ditarik dengan keras dan dipaksa berdiri dari posisinya yang terjungkal keras. Sambil meringis kesakitan, Ren mengikuti paksaan tenaga tersebut. Asap tebal menyelimuti Ren, dan sambil berteriak memanggil nama teman - temannya, Ren bergerak tanpa arah sampai sebuah suara menyadarkannya.

"REN, STOP!!"

Suara Lexy membuat Ren memutar badannya ke belakang, dan cahaya biru khas serangan Lexy melewati persis di sebelah kepalanya. Dalam sekejap, asap putih tersebut mulai menipis, dan Ren bisa melihat sosok Mir dan Freya yang berdiri dibalik punggung Lexy dan Frey.

Setelah bergabung dengan yang lain, Ren baru berani menoleh ke belakang, dan melihat sosok Asterisk, dengan bagian jantung yang tertembus serangan Lexy.

Lexy berusaha mengatur nafasnya, antara senang karena keberhasilannya dan ketakutan jika si monster tiba - tiba bangkit berdiri. Frey memijat bahu Lexy perlahan, agar ketegangannya sedikit berkurang, karena Lexy masih dengan tangannya yang berposisi siaga menyerang.

"Berhasil 'kah?" tanya Freya pelan. Mir hanya menggeleng tidak tau, sementara Ren masih saja menatap nanar ke arah sang monster.

Rabi memimpin Guri dan yang lain untuk mengecek. Phoenix dan Brownie melesat sambil membersihkan sisa - sisa asap, membuat sosok tersungkur sang monster tambah terlihat jelas. Sambil menatap Frey, Rabi menggeleng pelan, mengisyaratkan bahwa Asterisk sudah kehabisan nafas.

Keempat bocah yang lain langsung menghela nafas lega, kecuali Lexy yang masih saja mengerutkan dahinya. Belum sempat Mir bertanya kenapa Lexy masih saja ketakutan, Lexy menghambur cepat ke arah Asterisk sambil berteriak kencang.

"PHOENIX!!!!"

Tepat 1 langkah di depan tubuh lunglai sang monster, barrier menyelimuti kelima bocah tersebut, dan detik berikutnya, kegelapan menyelimuti kelimanya.

Sunday, April 19, 2009

Now or Never -- For the Sake of Our Life

Tanpa disuruh, kelima Partner yang dari tadi masih menyebelahi tuannya masing - masing kini sudah menghambur ganas ke arah sebuah sosok yang tidak terlihat jelas. Tidak seperti wujudnya yang terlihat kebal terhadap serangan apapun, seseorang atau sesuatu yang ada di hadapan kelima bocah itu terhuyung pelan saat kelima Partner menyeruduknya tanpa ampun.

Lexy bersiul pelan seolah merayakan, tapi tangan kanannya tetap terarah lurus ke arah kepulan debu di depan mereka. Sementara Lex dan Frey berjaga, ketiga bocah yang lainnya masih menempelkan tangan ke leher masing - masing, meyakinkan diri sendiri bahwa leher mereka masih terpasang di tempat yang seharusnya, dan tidak terpotong oleh angin tajam yang baru saja berhembus di belakang mereka.

Shiro dan Tom cuma memandangi pakaian mereka yang sobek dan menyatu kembali saat terkena pisau angin tersebut. Kalau saja mereka bukan Shadow, maka mungkin saat ini mereka sudah kehilangan nyawa.

"Mana, mana? Masa cuman segitu aja!" tantang Lexy pada sosok yang akhirnya mulai berdiri tegak.

Jubah panjang putih bersih dengan wajah yang begitu dikenali kelima bocah di sana berdiri tegap di hadapan mereka semua. Anehnya, bahkan Shiro, yang wajahnya 'dipinjam' oleh sosok di depan sama sekali tidak terkejut.

Sekali lagi, Lex bersiul. Kali ini hanya untuk mencairkan suasana, karena beberapa saat kemudian 'Asterisk' di hadapan mereka malah meminjam wajah Tom. Mir yang masih bingung sempat menoleh ke arah Tom yang asli berdiri, memastikan bahwa yang di hadapan mereka saat ini adalah Asterisk.

Tanpa ragu, Rabi melayangkan sabetan pedang kecil nya tanpa ampun, membuat jubah putih yang dipakai si Asterisk terpotong. Frey melanjutkan serangan dari Rabi tersebut dengan menghantamkan serangannya tepat di wajah sang monster.

Pecahan krem persis tanah liat mencuat keluar dari retakan wajah Asterisk, membuat Lexy secara reflek meloncat mundur ke belakang. Freya yang tadinya tegang setengah mati, langsung terbahak melihat tingkah Lexy, yang langsung melancarkan serangan berikutnya karena tidak mau guratan merah di wajahnya terlihat.

"Ada apa?" tanya Shiro yang akhirnya memperhatikan raut wajah Ren yang terlihat kesal.

"..aku butuh kekuatan... aku ingin bertempur.. seperti Frey dan Lexy.." Ren mengencangkan genggaman tangannya, yang langsung melemas lagi karena Tom.

"Sudah ada kok, kalau cuma kekuatan," ujar Tom sambil tersenyum. "Yang belum ada cuma.." Tom mendekat ke arah telinga Ren dan berbisik pelan, "..keberanian.."

Ren cuma bisa tersenyum kecut, dan mengakui hal tersebut. Sambil menepuk punggung Ren, Shiro memberi isyarat mata agar Ren masuk ke dalam area pertempuran, bergabung dengan Frey dan Lexy. Tidak perlu waktu lama, kaki Ren melangkah tegap dan memposisikan dirinya di antara Frey dan Lexy.

"Ren, mundur!! Nanti kau bisa ter-"

Sinar merah menyala yang keluar dari kedua tangan Ren langsung membekap Lexy yang cuma bisa ternganga terkejut. Frey tersenyum senang, dan sambil menepuk punggung Ren, ia berujar pelan, "Welcome to the club, Ren."

Dan untuk ketiga kalinya, Lexy bersiul girang. Pancaran matanya seolah berkata bahwa ia sudah tidak sabar untuk menghabisi monster di hadapannya, bersama - sama dengan Ren dan Frey. Sambil mengacungkan jempol yang dibalik, Lexy melontarkan tantangan untuk sang Asterisk.

"Monster jelek, kali ini kau pasti akan tersungkur meminta ampun!!"

Thursday, March 19, 2009

Now or Never -- The Third Monster

Ruangan Mansion itu kini menjadi semacam tempat reuni. Inuki, Guri, Phoenix, Rabi dan Brownie, kelimanya tiba - tiba saja muncul dari segala penjuru ruangan, dan langsung menyebelahi majikan mereka masing - masing. Kelima pasang majikan dan Partner tersebut tidak butuh waktu lama untuk melampiaskan rasa kangen yang mereka pendam sampai saat ini, terutama setelah insiden yang baru saja mereka lewati.

Mir menyerahkan sepasang buku, yang tadi diberikan oleh 'Shiro', kepada Shiro yang hanya tersenyum simpul.

"Maaf ya, mengagetkan kalian seperti itu. Tapi kalau Nightmare tidak hilang, maka aku tidak bisa ada di sini bersama kalian. Tom dan Eternia juga begitu. Ya 'kan?"

Tom cuma mengangkat alisnya, dan Frey langsung menepuk - nepuk punggungnya.

"Ada apa dengan buku itu?" tanya Freya penasaran.

"Ini, adalah monster terakhir," ujar Shiro, membuat kelima bocah itu cuma bisa kebingungan. "Monster pertama, Nightmare, diambil dari jiwaku, yang tidak pernah puas dengan apa yang sudah kudapat. Monster kedua, Eternia, diambil dari jiwa Tom, yang selalu ingin memperbaiki masa lalunya."

"Kemudian monster ketiga, yang terakhir, adalah Asterisk," Tom membuka kedua buku tersebut di bagian tengah, dan menyatukan keduanya. Sosok yang mirip Lights tampak di sana.

"Hm? Bukannya itu.." Sebelum Lexy sempat menyelesaikan kalimatnya, Tom dan Shiro sudah mengangguk.

"Monster ketiga, diambil dari jiwa pimpinan Lights, dan jiwa semua Lights yang ada," ujar Tom sambil menutup kedua buku tersebut.

"Jadi jika monster terakhir ini kita 'kalahkan' maka..?" Ren ragu menyelesaikan kalimatnya.

"Tugas kalian selesai."

"Hee? Kalau begitu, sudah tidak bisa bertemu Guri lagi...? Padahal kami baru saja bertemu.." Freya langsung kecewa.

"Memangnya, kapan Asterisk itu akan muncul? Tidak dalam waktu dekat ini kan?" tanya Mir.

Dengan perlahan, Shiro membuka kedua buku tersebut, dan pada bagian belakang, ia menyodorkannya kepada kelima bocah itu.

"'now'?" baca Frey. "Sekarang?"

"Ah ngaco it-!"

Belum selesai Lexy berkata - kata, bangunan Mansion itu perlahan memudar, mulai dari langit - langit yang paling atas.

"..apa kita harus bertempur sekali lagi?" tanya Mir.

"Melawan Eternia saja kita kepayahan.. apa ada harapan kita bisa menang kali ini?" ucap Ren pesimis.

Shiro cuma tersenyum kecil.

"Walaupun kalah dengan Eternia, tapi kalian berhasil mengalahkan Nightmare 'kan?"

"Itu sih cuman Frey dan Lex, 'kan?" gumam Freya sambil menuding keduanya.

"Susah sih ya, kita kan orang - orang heba- ADUH!!" Lexy tidak sempat menghindari geplakan tanan Freya yang memukul kepalanya dengan keras.

Bersamaan dengan itu, Mansion of Beginning sudah tidak lagi meninggalkan bekasnya. Hamparan laut biru dengan matahari terbenam membuat mereka takjub dan melongo untuk beberapa saat.

"Jangan lengah ya.." ucap Shiro pelan. "Kalau lengah sedikit saja.. leher kalian bisa putus loo.."

Secara bersamaan, kelima bocah itu merasakan bulu kuduk mereka yang mulai berdiri merinding.

Friday, January 9, 2009

Now or Never -- A Pair of Friend

"Lepaskan aku!! Oi!!!"

Tom berusaha melepaskan diri dari rantai yang membalut lengan dan kakinya, tapi percuma. Hal itu malah melukai nya lebih dalam lagi. Darah segar mengucur perlahan dari lukanya, tapi Tom tidak menghiraukannya, dan kembali berteriak memberontak.

Tidak lama kemudian, usahanya menampakkan hasil yang tidak sia - sia. Segerombolan Lights mulai menghampirinya, dan berdiri mengitarinya. Tom berusaha meyakinkan mereka bahwa ia hanya ingin berbicara dengan pimpinan mereka. Tapi yang diajak bicara tampak tidak mengacuhkannya.

Lights dengan jubah yang bersinar paling terang memasuki ruangan, dan Tom langsung mendapatkan firasat buruk. Ia berdiri tepat di belakang kepala Tom, dan memandang kepalanya dari bagian atas.

"Dengarkan aku! Aku cuma ingin berunding dengan mu!!"

"Kau berharap aku percaya, setelah kau pergi berusaha menyebarkan rahasia kami pada teman kecilmu itu?"

"...! Itu hal yang wajar kan?! Mana ada orang yang akan membiarkan dirinya dan teman baiknya dimanfaatkan oleh orang - orang seperti kalian?!"

"Hmph. Jadi kau berusaha mencari anak lain untuk menggantikan keinginanmu menghancurkan kami, para LIghts?"

"Buk-"

"Dan kau juga berharap kelima bocah itu bisa membawa Partners lebih banyak daripada kalian, dan berharap mereka bisa menetralisir kami, begitu?"

"Ck! Aku sudah bilang, tidak se-"

"Jadi, apa maumu dengan membawa mereka ke sini? Kau tidak bisa menjawabnya 'kan?"

"Aku... ck... aku cuma ingin membawa Shiro kembali... cuma itu.."

"Kalau begitu, sayang sekali.. karena kau mungkin akan membawa orang yang ingin kau kembalikan itu ke tempat seharusnya dia berada.."

Hal terakhir yang diingat Tom, sepasang tangan hitam kelam yang menutupi kedua matanya, dan kemudian lengannya terasa kaku. Kemudian kakinya, punggungnya, dan terakhir wajahnya pun terasa susah digerakkan. Kegelapan dengan seujung cahaya mulai mendekat ke arahnya.

Hal pertama yang dilihatnya setelah itu adalah Shiro dengan napas tersengal - sengal di hadapannya. Ia ingin sekali berlari ke arahnya dan menepuk punggungnya, meyakinkan bahwa ia baik - baik saja. Tapi sepasang lengan dengan cakar tajam mencabik tubuh teman baiknya itu. Sekuat tenaga Tom berusaha meraih Shiro dan menariknya dari sana, tapi seperti apapun usahanya, tidak ada yang terjadi sama sekali.

Ia bisa merasakan Shiro menarik lengan bajunya, tapi kemudian sepasang cakar tajam itu mencengkeramnya dari belakang. Kali ini Tom merasakan ia berteriak keras, dan akhirnya berhasil meraih Shiro ke dalam dekapannya. Bersamaan dengan itu, ia tidak lagi merasa menjadi dirinya sendiri.

Kesadaran manusianya hilang, digantikan oleh kegelapan yang dulu dirasakannya saat pertama kali menjadi Shadow. Sambil didampingi Eternia, ia menyeret tubuh Shiro yang setengah sadar ke hadapan kelima bocah yang sudah menanti di area depan..

Monday, November 17, 2008

Now or Never -- One Truth

"Tidak apa - apa meninggalkan kelima anak itu?" Shiro memandang ke arah Tom yang entah sudah keberapa kali nya menghela napas.

"Umh." Sekali lagi, Tom memandang Shiro tepat di kedua matanya. "Yang akan kita lakukan ini berbahaya buat mereka. Lagipula pertarungan kali ini bukan main - main. Bisa - bisa mereka kehilangan nyawa. Bukan mereka saja, bahkan aku sendiri tidak yakin kalau kita bisa selamat keluar hidup - hidup dari Klaudi.."

Shiro mengangguk membenarkan. Ia memutuskan tidak akan bertanya lagi tentang hal itu pada Tom. Matanya menatap lurus ke depan, berharap ia segera sampai di Klaudi untuk menghadapi para Lights. Tapi tidak sampai berapa lama, Shiro menyadari bahwa mereka telah disambut.

"Lights!!" seru Shiro panik saat melihat segerombolan pasukan berjubah putih dari kejauhan. Tom cuma bisa berdecak kesal. Kedua nya kebingungan, apa yang harus diperbuat.

"Jumlah mereka terlalu banyak... Sial... Kalau diserang langsung kayak gini mana mungkin kita..." gerutu Tom sambil menggigiti kuku jarinya.

Tidak sampai 5 menit, kereta hitam yang dinaiki mereka berdua mulai oleng, karena serangan yang diluncurkan Lights di depan mereka.

"..Tom.. gimana..?" tanya Shiro ragu, seiring kereta yang memperlamban jalannya.

"Kita terobos."

Shiro tampak ragu dengan jawaban Tom, tapi ia hanya menganggukkan kepala. Berlama - lama di sini pun tidak menjamin nyawa mereka, jadi lebih baik sekalian saja. 'Nothing to lose' kalau kata Tom.

"Siap - siap ya.."

Shiro mengangguk sambil menelan ludah perlahan. Tom mulai menghitung mundur saat kereta yang mereka tumpangi mulai mendekat ke arah Lights. Saat hitungan seharusnya mencapai angka 0, getaran yang seharusnya dirasakan oleh Shiro akibat tabrakan sama sekali tidak terasa.

Hal yang berikutnya disadari oleh Shiro adalah, ia sudah terpental di dalam sebuah gerbong yang tadi dinaikinya bersama dengan Tom. Tapi bedanya, ia bisa melihat Tom mengangkat kedua tangannya, seolah ia baru saja 'membuang' gerbong tersebut bersama Shiro di dalamnya.

Gerbong yang dinaiki Shiro terangkat makin tinggi ke langit, sementara ia dari atas bisa melihat kereta hitam Tom yang ditahan oleh para Lights. Sambil berusaha memicingkan mata, Shiro cuma bisa pasrah saat sosok Tom digiring oleh 2 Lights di kanan dan kiri nya.

Sambil berusaha memusatkan kekuatannya, Shiro berhasil membentuk kereta putihnya, dan dengan kepala yang penuh pikiran buruk tentang Tom, ia langsung memaju keretanya menuju Sands of Time. Tempat yang seharusnya menjadi perhentian terakhir dari kelima anak - anak itu.