"He?"
"Loh?"
"Yo!"
"Hueee.."
"Ah!"
Dengan ekspresi kaget sendiri - sendiri, kelima bocah itu tiba - tiba sudah berhadapan satu sama lain. Tanpa perlu basa basi, mereka sudah melepas kangen masing - masing. Sambil duduk melingkar, mereka menceritakan pengalaman masing - masing.
"Ngomong - ngomong ini di mana ya?" Ren akhirnya menyadarkan mereka yang masih asyik ngobrol satu sama lain, membahas cara mereka bisa sampai di sini.
Langit merah subuh menghiasi daerah pinggiran sungai kecil tempat mereka berada. Sekeliling mereka hanya ada ilalang, sungai panjang, dan hanya mereka. Sambil berdiri, mereka memutuskan untuk mulai berkeliling.
Tidak ada tanda - tanda kehidupan satu pun. Bahkan serangga pun tidak ada di padang yang penuh ilalang tinggi itu. Mereka sudah hampir putus asa, sampai suara cerobong kereta hitam yang tidak asing di telinga mereka itu terdengar. Nyaring. Tapi tidak ada rel kereta di sana, jadi bagaimana kereta itu bisa sampai di sana?
Suara cerobong itu makin keras, tapi tetap saja tidak ada tanda - tanda moncong gerbong itu akan muncul. Lexy menghela napas panjang sambil duduk pasrah. Merasa frustasi karena ada suara tapi tidak ada sosok apa pun yang muncul. Sampai sedetik kemudian, kereta hitam itu sudah berdiri menjulang di sebelahnya.
Seolah jatuh dari langit, kereta hitam, tanpa ada Tom sebagai masinisnya itu, berdiri menjulan di depan kelima bocah yang hanya bisa terdiam itu. Banyak kejadian aneh yang terjadi, tapi ini lah yang paling aneh yang pertama kali mereka saksikan.
Frey baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam gerbong, saat ia kemudian berteriak kaget. Gerbong itu tidak kosong. Sekelompok orang dengan jubah putih menjuntai sampai bawah berada di dalam. Frey melangkah mundur, tapi satu dari sekian banyak jubah putih itu memanggilnya masuk.
"Masuklah.. Kami sudah menunggu kalian..."
Saturday, March 8, 2008
Floatin' -- Depth : Surface
Posted by
Anonymous
at
9:36 PM
0
comments
Labels: asterisk
Friday, March 7, 2008
Floatin' -- Depth : 10m
Freya terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Bangunan - bangunan mulai runtuh di sekelilingnya. Orang - orang berhamburan keluar, berusaha menyelamatkan diri. Teriakan sahut menyahut dari segala arah. Langkah Freya tertahan sejenak.
'Jangan berhenti!' sahut Dino, menyadarkan Freya yang kembali berpacu.
Mereka berhenti di padang rumput yang letaknya jauh dari kota. Roundtrap Town hancur. Hanya itu yang ada di pikiran Freya. Setengah jam yang lalu, mereka baru saja tidur - tiduran santai. Sampai tiba - tiba gempa besar itu datang. Seluruh kota jadi kacau balau.
"Apa yang terjadi sih? Kenapa tiba - tiba ada gempa?"
'Tidak tau.. Apa yang kaulakukan?'
"Sms Frey.. Siapa tau di tempat dia juga gempa.. Huff.. Lalu? Kemana kita sekarang? Sudah tidak ada tempat buat bermalam lagi... Guri?"
'Ada yang memanggil ku...' Guri mulai berjalan dengan pandangan mata kosong, memasuki rentetan pepohonan yang menjulang tinggi. Freya mau tak mau mengikutinya dari belakang.
Semakin masuk, pandangan mereka akan Roundtrap semakin hilang, tertutup tingginya pohon. Sama sekali tidak ada tanda - tanda kehidupan di dalam hutan itu, tapi tetap saja langkah Guri makin mantap masuk ke dalam.
"Oh.." Langkah keduanya terhenti. Cahaya hijau sama seperti saat Freya menemukan Guri, menjulang tinggi sampai ke langit. Kali ini Freya melangkah duluan, meninggalkan Guri yang tatapannya masih kosong. "Frey.. ada di sana.."
'Freya!' Pandangan mata Guri sudah kembali normal.
"Guri! Ayo ke sini!"
'Kau yakin?'
"Umh! Frey ada di seberang sana! Ayo!"
Tanpa ragu, Guri mengikuti Freya memasuki cahaya itu. Sesaat kemudian, cahaya hijau itu terangkat ke langit, hilang dan membaur bersama warna biru angkasa.
Posted by
Anonymous
at
1:08 PM
0
comments
Labels: asterisk
Thursday, March 6, 2008
Floatin -- Depth : 20m
"Biaya pendaftaran nya 30.000 Trax."
"Ha?"
'Sepertinya mata uang di sini namanya Trax.'
"Aku hanya ada uang segini.."
Lexy menumpahkan isi kantong uang nya, menimbulkan suara berisik di lobi pendaftaran peserta Coliseum itu. Petugas di depannya memandang nya sinis, sambil meneliti koin - koin di depannya.
"Kau membodohiku ya? Ini kan uang mainan."
Lexy sudah akan menggebrak meja kalau saja Phoenix di sebelahnya tidak melenggang terbang ke depan. Sambil seolah meminta maaf, Phoenix itu menggiring Lexy menjauhi meja registrasi.
"Apa sih?! Ini uang beneran tau! Uang mainan apanya?!" Lexy mengomel, membuat semua orang di sana menoleh sambil berbisik - bisik.
'Jangan kekanak - kanakan. Tiap kota punya aturan dan budaya yang berbeda. Mata uang juga begitu.' Lexy sudah merengut tidak karuan. Petugas registrasi menepuk bahunya, mengembalikan uang yang tadi ia tinggalkan begitu saja. Di sawutnya begitu saja koin - koin itu.
"Segitu pengennya ikut kompetisi ini ya?" Petugas di depannya bertanya sambil ikut - ikutan merengut.
"Menurutmu?" Lexy tidak kalah nyolot. Phoenix nya langsung nangkring di bahu Lexy, berusaha menenangkan emosi partner nya itu.
Tiket masuk dipampangkan di depan wajah Lexy. Dengan tatapan sedikit menghina, petugas di depannya itu hanya nyengir lebar. "Mau ikut apa tidak?" Kali ini Lexy mengambil tiket itu perlahan.
"Sankyu.." Lexy bergumam pelan. Petugas itu kemudian menjelaskan peraturan tanding nya. Yang akan bertanding adalah Lexy dan partnernya, yaitu Phoenix. Untuk babak pertama, lawannya bukan sesama peserta, tapi Shadow. "Setelah itu?"
"Yaah.. nanti saja kujelaskan setelah kau menang. OK? Nah sana, masuk!" Petugas itu mendorong punggung Lexy, memasuki ruangan pertandingan. Lapangan bundar dengan luas yang tidak biasa terpampang di mata Lexy. Para penonton bersorak sorai dari kursi. Di depan Lexy, pintu gerbang yang menjulang tinggi mulai membuka perlahan, menampilkan Shadow dengan tinggi 2x lipat nya Lexy.
Phoenix sudah tidak kesulitan memakai kekuatannya. Dalam sekejap, Shadow di depannya sudah mulai menghilang perlahan. Asap tebal menutupi Coliseum itu.
"Phoenix! Oi!" Lexy maju perlahan mencari partner nya itu.
'Lexy!' Phoenix merah melayang di depannya. Bayangan hitam muncul tepat di belakangnya, siap menerkam si burung merah. Shadow. Secara reflek, Lexy menarik tangannya, dan detik kemudian Shadow itu menghilang, digantikan cahaya putih yang menyelimuti Lexy dan Phoenix.
"Ha?"
'Sepertinya mata uang di sini namanya Trax.'
"Aku hanya ada uang segini.."
Lexy menumpahkan isi kantong uang nya, menimbulkan suara berisik di lobi pendaftaran peserta Coliseum itu. Petugas di depannya memandang nya sinis, sambil meneliti koin - koin di depannya.
"Kau membodohiku ya? Ini kan uang mainan."
Lexy sudah akan menggebrak meja kalau saja Phoenix di sebelahnya tidak melenggang terbang ke depan. Sambil seolah meminta maaf, Phoenix itu menggiring Lexy menjauhi meja registrasi.
"Apa sih?! Ini uang beneran tau! Uang mainan apanya?!" Lexy mengomel, membuat semua orang di sana menoleh sambil berbisik - bisik.
'Jangan kekanak - kanakan. Tiap kota punya aturan dan budaya yang berbeda. Mata uang juga begitu.' Lexy sudah merengut tidak karuan. Petugas registrasi menepuk bahunya, mengembalikan uang yang tadi ia tinggalkan begitu saja. Di sawutnya begitu saja koin - koin itu.
"Segitu pengennya ikut kompetisi ini ya?" Petugas di depannya bertanya sambil ikut - ikutan merengut.
"Menurutmu?" Lexy tidak kalah nyolot. Phoenix nya langsung nangkring di bahu Lexy, berusaha menenangkan emosi partner nya itu.
Tiket masuk dipampangkan di depan wajah Lexy. Dengan tatapan sedikit menghina, petugas di depannya itu hanya nyengir lebar. "Mau ikut apa tidak?" Kali ini Lexy mengambil tiket itu perlahan.
"Sankyu.." Lexy bergumam pelan. Petugas itu kemudian menjelaskan peraturan tanding nya. Yang akan bertanding adalah Lexy dan partnernya, yaitu Phoenix. Untuk babak pertama, lawannya bukan sesama peserta, tapi Shadow. "Setelah itu?"
"Yaah.. nanti saja kujelaskan setelah kau menang. OK? Nah sana, masuk!" Petugas itu mendorong punggung Lexy, memasuki ruangan pertandingan. Lapangan bundar dengan luas yang tidak biasa terpampang di mata Lexy. Para penonton bersorak sorai dari kursi. Di depan Lexy, pintu gerbang yang menjulang tinggi mulai membuka perlahan, menampilkan Shadow dengan tinggi 2x lipat nya Lexy.
Phoenix sudah tidak kesulitan memakai kekuatannya. Dalam sekejap, Shadow di depannya sudah mulai menghilang perlahan. Asap tebal menutupi Coliseum itu.
"Phoenix! Oi!" Lexy maju perlahan mencari partner nya itu.
'Lexy!' Phoenix merah melayang di depannya. Bayangan hitam muncul tepat di belakangnya, siap menerkam si burung merah. Shadow. Secara reflek, Lexy menarik tangannya, dan detik kemudian Shadow itu menghilang, digantikan cahaya putih yang menyelimuti Lexy dan Phoenix.
Posted by
Anonymous
at
3:29 PM
0
comments
Labels: asterisk
Wednesday, March 5, 2008
Floatin' -- Depth : 30m
Pepohonan menjulang tinggi di kanan dan kiri Ren. Sambil menghela nafas, ia mengelus Inuki di sebelahnya, berusaha mengembalikan tenaga nya yang hilang setelah memasuki Dream Forest. Peta di tangannya diremas perlahan.
Mata nya terpejam perlahan. Berusaha menenangkan pikirannya yang kacau, gara - gara merasa tersesat. Ia yakin sekali arah tujuannya sudah benar, tapi entah kenapa, tempat tujuan yang seharusnya sudah dicapai dari tadi tidak ketemu juga.
"Inuki... Ngomong dong..." gumam Ren setengah sadar. Yang dipanggil hanya menoleh perlahan. "Padahal yang lainnya bisa bicara kan... kenapa cuma kau saja yang tidak bisa..." Ren melirik isi sms yang baru saja diterima dari Frey, yang sepertinya di sent to all.
Ren mengangkat kepalanya. Tanpa sengaja, matanya menangkap sesuatu. Ren berdiri tegak sambil memicingkan matanya.
"Inuki... itu apa ya..?" Ren menunjuk ke titik merah di ujung langit. Seolah mengerti apa yang ingin dilakukan Ren, Inuki mengeluarkan cahaya dari mulutnya itu, ke arah langit.
Cahaya biru menutupi titik merah itu. Membuatnya seolah menghilang. Beberapa detik kemudian, Titik merah itu membesar perlahan, mendekat ke arah hutan. Belum sempat Ren dan Inuki menghindar, titik yang mulai menjadi cahaya merah pekat itu sudah menyelimuti keduanya.
Di dalam kepala Ren, suara seseorang bergema pelan.
'Jangan khawatir, aku akan selalu menemani mu Ren... Walaupun mulutku tidak bisa bicara.. Aku akan selalu melindungi mu...'
"Inuki.." Ren membuka matanya perlahan. Serigala biru itu berdiri dengan tegap di depannya.
'Sebentar lagi kita sampai... Sampai saat itu, istirahatlah yang cukup..'
Sambil tersenyum puas, mata Ren kembali menutup.
Mata nya terpejam perlahan. Berusaha menenangkan pikirannya yang kacau, gara - gara merasa tersesat. Ia yakin sekali arah tujuannya sudah benar, tapi entah kenapa, tempat tujuan yang seharusnya sudah dicapai dari tadi tidak ketemu juga.
"Inuki... Ngomong dong..." gumam Ren setengah sadar. Yang dipanggil hanya menoleh perlahan. "Padahal yang lainnya bisa bicara kan... kenapa cuma kau saja yang tidak bisa..." Ren melirik isi sms yang baru saja diterima dari Frey, yang sepertinya di sent to all.
'Aku dan Rabi sedang dalam perjalanan menuju Istana. Bagaimana dengan mu? Sehat? Di mana kau sekarang? Ada kejadian apa? Aku dan Rabi baik - baik saja.'
'Aku baru saja tau, kalau ternyata Rabi bisa bicara. Kaget sih, tapi dengan begini ada teman ngobrol. Seharusnya yang lain juga bisa kan?'
'Nanti kalau sudah sampai, aku akan kabari kau lagi. Sampai nanti.'
'Aku baru saja tau, kalau ternyata Rabi bisa bicara. Kaget sih, tapi dengan begini ada teman ngobrol. Seharusnya yang lain juga bisa kan?'
'Nanti kalau sudah sampai, aku akan kabari kau lagi. Sampai nanti.'
Ren mengangkat kepalanya. Tanpa sengaja, matanya menangkap sesuatu. Ren berdiri tegak sambil memicingkan matanya.
"Inuki... itu apa ya..?" Ren menunjuk ke titik merah di ujung langit. Seolah mengerti apa yang ingin dilakukan Ren, Inuki mengeluarkan cahaya dari mulutnya itu, ke arah langit.
Cahaya biru menutupi titik merah itu. Membuatnya seolah menghilang. Beberapa detik kemudian, Titik merah itu membesar perlahan, mendekat ke arah hutan. Belum sempat Ren dan Inuki menghindar, titik yang mulai menjadi cahaya merah pekat itu sudah menyelimuti keduanya.
Di dalam kepala Ren, suara seseorang bergema pelan.
'Jangan khawatir, aku akan selalu menemani mu Ren... Walaupun mulutku tidak bisa bicara.. Aku akan selalu melindungi mu...'
"Inuki.." Ren membuka matanya perlahan. Serigala biru itu berdiri dengan tegap di depannya.
'Sebentar lagi kita sampai... Sampai saat itu, istirahatlah yang cukup..'
Sambil tersenyum puas, mata Ren kembali menutup.
Posted by
Anonymous
at
10:23 AM
0
comments
Labels: asterisk
Sunday, March 2, 2008
Floatin' -- Depth : 40m
"Hoi! Keluarkan kami!! Hoi!!!" Frey menggedor jeruji di depannya. Tidak ada respon. Sekali lagi Frey memukulkan kepalan tangannya ke jeruji, kemudian menyandarkan badannya ke dinding tempat ia dan Rabi dikurung.
Baru sampai di depan istana yang dibicarakan Rabi, mereka sudah dikepung tiba - tiba oleh sepasukan prajurit, yang tanpa berbicara apa pun, langsung menggiring mereka ke penjara bawah tanah, tempat mereka sekarang.
Mereka hanya ditinggalkan begitu saja. Tanpa ada penjelasan apa pun. Tanpa ada pengawas satu pun. Frey sudah kehilangan kesabarannya, sementara Rabi di sebelahnya hanya bersikap tenang. Mata hitam kecil Rabi dari tadi mengamati pola aneh yang tergambar di sisi dinding penjara. Ia berusaha mengingat sesuatu dari tadi. Sesuatu yang berhubungan dengan gambar itu.
"Memangnya ini apa sih?" Frey berdiri di sisi dinding bergambar itu. "Paling cuman corat coret iseng." Frey mengetokkan kepalan tangannya, dan suara berirama membuat nya terkejut dan mundur menjauhi dinding itu.
'Ah, aku ingat..' Rabi menggantikan Frey di depan gambar itu. Kepalan tangan kecil nya mulai memukul dinding itu di tempat yang berbeda. Menimbulkan irama lagu yang khas. Tak lama kemudian, pintu jeruji terbuka perlahan.
Frey mengomel tidak karuan sepanjang koridor yang mereka susuri. Rabi hanya menanggapi sekenanya. Mereka menelusuri istana besar itu. Hiasan - hiasan aneh menghiasi tiap koridor yang mereka lalui, membuat Frey semakin gencar mengomel.
'Ini ruangan Raja,' gumam Rabi sambil membuka pintu besar di depannya. Di dalam, hanya terdapat kursi kosong.
"Hee.. Ini istana mu ya Rabi?" Frey mengambil kesimpulan setelah melihat foto yang terpajang di dinding. Foto yang mirip Rabi tergantung di situ.
'Bukan punya ku, tapi saudara kembar ku.. Sama seperti mu Frey, aku juga punya saudara kembar. Mungkin itu yang membuat kita cocok.' Frey manggut - manggut.
"Lalu ngapain kita ke sini?" Belum sempat Rabi menjawab, cahaya terang muncul dari arah kursi kosong di depan mereka. Rabi melangkah perlahan menuju arah cahaya. "Rabi?"
'Ayo, ini tujuan kita selanjutnya.'
Dengan langkah mantap, Frey mengikuti Rabi masuk ke dalam cahaya itu. Meninggalkan istana yang perlahan - lahan menghilang ke dalam kabut.
Baru sampai di depan istana yang dibicarakan Rabi, mereka sudah dikepung tiba - tiba oleh sepasukan prajurit, yang tanpa berbicara apa pun, langsung menggiring mereka ke penjara bawah tanah, tempat mereka sekarang.
Mereka hanya ditinggalkan begitu saja. Tanpa ada penjelasan apa pun. Tanpa ada pengawas satu pun. Frey sudah kehilangan kesabarannya, sementara Rabi di sebelahnya hanya bersikap tenang. Mata hitam kecil Rabi dari tadi mengamati pola aneh yang tergambar di sisi dinding penjara. Ia berusaha mengingat sesuatu dari tadi. Sesuatu yang berhubungan dengan gambar itu.
"Memangnya ini apa sih?" Frey berdiri di sisi dinding bergambar itu. "Paling cuman corat coret iseng." Frey mengetokkan kepalan tangannya, dan suara berirama membuat nya terkejut dan mundur menjauhi dinding itu.
'Ah, aku ingat..' Rabi menggantikan Frey di depan gambar itu. Kepalan tangan kecil nya mulai memukul dinding itu di tempat yang berbeda. Menimbulkan irama lagu yang khas. Tak lama kemudian, pintu jeruji terbuka perlahan.
Frey mengomel tidak karuan sepanjang koridor yang mereka susuri. Rabi hanya menanggapi sekenanya. Mereka menelusuri istana besar itu. Hiasan - hiasan aneh menghiasi tiap koridor yang mereka lalui, membuat Frey semakin gencar mengomel.
'Ini ruangan Raja,' gumam Rabi sambil membuka pintu besar di depannya. Di dalam, hanya terdapat kursi kosong.
"Hee.. Ini istana mu ya Rabi?" Frey mengambil kesimpulan setelah melihat foto yang terpajang di dinding. Foto yang mirip Rabi tergantung di situ.
'Bukan punya ku, tapi saudara kembar ku.. Sama seperti mu Frey, aku juga punya saudara kembar. Mungkin itu yang membuat kita cocok.' Frey manggut - manggut.
"Lalu ngapain kita ke sini?" Belum sempat Rabi menjawab, cahaya terang muncul dari arah kursi kosong di depan mereka. Rabi melangkah perlahan menuju arah cahaya. "Rabi?"
'Ayo, ini tujuan kita selanjutnya.'
Dengan langkah mantap, Frey mengikuti Rabi masuk ke dalam cahaya itu. Meninggalkan istana yang perlahan - lahan menghilang ke dalam kabut.
Posted by
Anonymous
at
9:33 AM
0
comments
Labels: asterisk
Subscribe to:
Posts (Atom)
