Tuesday, February 5, 2008

Point of No Return -- Last Week

Shadow.

Bayangan yang ada di pikiran, hati, atau apa pun itu, di tiap manusia. Pikiran jahat, perasaan iri, marah, keinginan untuk balas dendam, semua yang tidak baik itu pasti ada di sudut pikiran setiap orang.

Di sini ada Sunset Town, kota di mana senja punya waktu yang lebih lama dari biasanya. Di saat senja itulah, para Shadow mulai bermunculan. Mengumpulkan setiap pikiran jahat orang - orang. Seperti namanya, Shadow mengambil wujud bayangan, dan biasanya keluar dari bayangan orang yang dirasukinya.

Yang bisa mengalahkan Shadow? Tentu saja cahaya, seperti yang keluar dari tangan si Kakek. Makanya tiap kali mati lampu, itu tandanya ada Shadow di dekat sana.

Penjelasan panjang lebar itu diterangkan oleh si Kakek, sambil menikmati makanan yang dibawakan si Nenek. Kelima bocah itu hanya manggut - manggut, antara bingung dan mengerti. Pintu yang jebol sudah kembali berdiri tegak, setelah Lexy dipaksa oleh si Kakek untuk membantu.

"Inuki ya?" Si Nenek mengelus serigala biru yang duduk manis di samping Ren. "Warnanya biru, cakarnya besar juga, pasti sebentar lagi jadi besar, dirawat yang baik ya," si Nenek mengalihkan pandangannya ke arah Ren sambil tersenyum manis. "Yang di sana namanya siapa?" Sambil mengarah ke Dino kecil dan Phoenix.

"Err.. belum punya nama..." gumam Lexy malu, begitu pula dengan Freya yang melirik ke arah Dino di sebelahnya.

"Guri!" seru Freya tiba - tiba. "Dino kecil ini, namanya Guri! Ya kan?" Freya mengelus Dino hijau di sebelahnya dengan lembut.

"Wah wah, tinggal satu yang belum punya nama ya? Ayo cepat dikasi nama, sebelum nanti.."

Sekali lagi, suara 'oooonggggg' panjang dari kereta hitam berkumandang, memotong ucapan si Nenek, diikuti suara dering HP dari kelima bocah itu, yang langsung berpandangan satu sama lain. Ingin memastikan sms apa yang diterima oleh yang lainnya. Tidak ada yang berbeda, semuanya berisi sms yang sama :


"Get ready for the next stop!"
"Don't miss this one,
a new place waiting for you."
"Bring nothing but your courage,
your friends,
your belongings."
"Keep those dearest to you as close as possible."
"Do you wanna go?"

"Yes or No"



"Hoo.. sudah saatnya kalian pergi ya?" Si Kakek mengintip isi sms Frey yang hanya mengangguk pelan. "Apa jawaban kalian?"

"Yes.." Jawaban kompak meluncur dari mulut kelima bocah itu. Setelah berpamitan dengan si Kakek dan Nenek, mengemasi barang - barang mereka, memastikan tidak ada yang teringgal, ditambah dengan bekal dari Nenek untuk tiap orang, dan tentunya untuk hewan kecil di samping mereka, kelima bocah itu segera menuju stasiun.

Tom menyambut mereka. Membukakan pintu gerbong kereta, dan mengatakan bahwa hari ini dia akan mengendalikan kereta hitam mereka. Matahari senja menyambut kepergian mereka, persis seperti saat mereka tiba di Sunset pertama kalinya.

Setelah memandang Sunset untuk, mungkin, terakhir kalinya, Ren menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Menutup matanya. Dan perlahan, kereta hitam itu kembali melaju.

Monday, February 4, 2008

Road to Semarang

Yeah!!

Akhirnya hari yang dinanti - nanti datang juga..!

Setelah gak pulang pas natalan, akhirnya pas sincia pulang juga.

Beberapa hari yang lalu, gara - gara ujan n banjir, grup S ini kebingungan gimana cara nya ke bandara biar bisa balik. Tapi emang yg namanya alam itu penuh keajaiban :p. Baru lewat 2 hari dari genangan air 1m, sekarang air udah surut n jalan tol udh bisa dilewatin lagi seperti biasa.

Artinya : Semarang, here I come!! xD

Eits, gak semudah itu balik ke Semarang. Masih ada beberapa 'utang' yang belom kelar.

1. Ujian Grafkom!!
Emang bener nyebelin --" udah ujian terakhir, susah pula, n bikin gak ada minat sama sekali buat blajar. Yang lebih bikin nyesek, biar seusaha gimanapun, klo jawabannya gak 'perfect' gak bakal dikasi nilai bagus ama si botak maksiat itu. Huff...

2. Laporan Pertanggung Jawaban alias LPJ
Ini nih satu lagi, tinggal nunggu punya orang yang belom kelar doang, bikin kerjaan yang kayak mengarang bebas ini jadi tertunda. Akibatnya Hana jd harus ngasih LPJ ini ke biro sendirian ^^; maap han, gak bisa nemenin karena udh balik xP


Dua utang di atas itu kalo gak cepet - cepet dikelarin balik ke Semarang belom bisa tenang nih, bisa deg - deg an mulu, kepikiran ampe kebawa pas maen PS xD. Moga - moga permintaan anak - anak langit dikabulkan. Jangan sampe ada kejadian ujan deres, n jangan sampe air yang udah mulai surut itu naek lagi n menghambat perjalanan ke bandara.

Terberkatilah kita semua yang bakal pulang ke kampung halaman masing - masing hohoho. Semarang.. MANSE!!

Sunday, February 3, 2008

Point of No Return -- Week 2 2/3

Sambil terengah - engah, Frey membanting pintu penginapan di belakangnya. Sesaat sebelum mereka masuk, raungan panjang itu masih terdengar, tapi sekarang sudah tidak lagi. Lexy melongokkan kepalanya dengan Phoenix bertengger di bahunya.

"Err.. kalian dari luar kan? Dengar suara tadi?"

"Begitulah..!" Raungan itu kembali terdengar. Kali ini lebih keras dari yang tadi, membuat Ren menghampiri yang lain sambil kebingungan meminta penjelasan.

Ruang makan jadi tempat ngumpul mereka malam itu. Sambil menyantap makanan yang sudah ada, mereka masih bersiap - siap mendengarkan raungan yang mengerikan itu. Ren sudah mencoba membangunkan kakek tukang tidur itu lagi tadi, dan hasilnya masih sama saja seperti hari - hari biasa. Lexy bercerita tentang kunci yang ditemukannya di depan pintu kamarnya.

"Bentuknya aneh," Lexy mengeluarkan kunci itu dari kantongnya. "Warnanya emas, ujungnya panjang banget, dan di kamar - kamar atas gak ada yang bisa dibuka pake kunci ini."

"Simpan aja deh, siapa tau itu kunci rahasia," Freya berbinar, membuat suasana di meja makan itu jadi cair lagi. Suara raungan itu pun sampai keesokan hari nya tidak lagi terdengar, sampai 2 hari berikutnya..


"Uwaa!!" jeritan Mir membahana di ruang makan yang kini gelap gulita.

"Weh, mati lampu.." gumam Ren. "Mana ada lilin di sini.."

Sesaat kemudian lampu menyala redup, dan kali ini teriakan Ren menyambung ke 4 bocah lainnya.

"Hush, jangan teriak - teriak.." Si kakek penunggu meja resepsionis, berdiri sambil membawa lampu minyak di tangannya.

"K-ka-kakek meja depan..." ujar Lexy terbata - bata.

"Listriknya putus yaa.."

"Nenek makanan...!"

"Wah wah.." Nenek yang selalu diucapkan Mir itu tiba - tiba muncul juga, membawa lampu minyak yang sama seperti yang dibawa si Kakek. "Datang lagi yaa..." Belum sempat kelima bocah itu meminta penjelasan, pintu depan sudah terdobrak, raungan mengerikan itu muncul dari arah pintu yang sudah roboh.

Yang di depan mereka bukan monster, lebih mirip Inuki, tapi bisa berdiri dengan kedua kaki, dan tentunya besarnya tidak sekecil Inuki. Tingginya hampir sama dengan Frey. Kelima bocah itu menepi ke pinggir dinding, dengan ketiga hewan mungil mereka di depan, menggeram pelan. Kakek dan Nenek yang baru saja muncul itu bukannya ikut menepi, malah mendekati makhluk di depan mereka.

"Lagi - lagi merusak pintu depan kita ya Pak.." ujar si Nenek. Yang diajak ngomong hanya tersenyum.

"Memang Shadow bandel.." Tangan kanan si Kakek yang tidak memegang lampu mengarah ke kepala makhluk yang dipanggil Shadow itu. Cahaya kuning seperti lampu penginapan muncul dan menyelimuti makhluk di depannya. Dari atas kepala, sampai bawah. Sedetik kemudian, cahaya berikut makhluk yang diselimutinya menghilang, tanpa jejak sama sekali.

Saturday, February 2, 2008

Point of No Return -- Week 2 1/3

"Permisi.." Frey memberanikan diri mendekati lelaki mirip masinis itu.

"Oh! Kalian penumpang terakhir ya?" Lelaki yang mengakui bahwa dirinya adalah masinis itu menanggapi pertanyaan Frey dengan baik. Mir dan Freya pun mendekat. Si masinis sepertinya tidak heran melihat hewan - hewan yang dibawa ketiga bocah itu.

Sambil bercerita panjang lebar, Tom, si masinis itu pun menjelaskan tentang kota ini. Tentang kereta yang bisa berjalan walaupun tidka ada masinis di dalamnya, yang ternyata dijalankan dengan auto-pilot. Sunset Town sendiri merupakan tempat di mana orang - orang yang mencari jati diri nya masing - masing datang, dan bagaimana cara mereka pulang, Tom sama sekali tidak tau. Ketika ditanya di mana ia tinggal, Tom menjawab, ia tinggal di dalam kereta.

"Pak Tom.."

"Tom saja. Begini - begini aku belum kepala 4 lo, hahahha.."

Freya menanyakan tentang sms yang diterimanya, membuat raut wajah Tom berubah.

"Kau menerima sms itu? Benarkah?"

"Umh! Cuma aku, Ren, dan Lexy. Mir dan *ehm* Frey tidak."

Sekilas Frey sempat melihat ekspresi mengerikan di wajah Tom.

"Aku lah yang mengirim sms itu. Tidak ada maksud apa - apa," Tom menyela Freya yang sudah siap bertanya lagi. "Benar, tidak ada maksud apa - apa, hanya untuk menyelamatkan hewan kecil yang sekarang ada di sebelah kalian itu. Perjalanan ke sini pun hanya kebetulan saja, karena seharusnya kereta tua ini tidak mungkin berjalan 4 hari berturut - turut."

Tidak puas dengan penjelasan Tom, Freya hanya diam. Frey mengambil alih pembicaraan, menanyakan tentang pemilik 'Inn' yang selalu tertidur. Tom malah tertawa ngakak, katanya, kalau dia tidur terus itu artinya kalian boleh menginap tanpa bayar. Tentang makanan yang selalu tersedia, mungkin itu disediakan oleh istrinya, yang punya prinsip sama seperti suaminya. Tentang penduduk Sunset, secara simple Tom menjelaskan, kota Sunset ini hanya tempat pemberhentian, jadi otomatis tidak ada yang tinggal di sini dalam waktu lama.

Tak terasa langit benar - benar gelap sekarang. Setelah berpamitan dengan Tom, mereka meninggalkan stasiun dan berjalan kembali ke penginapan. "Jangan kesasar!" pesan Tom sambil terkekeh.

Perjalanan pulang biasanya lebih dekat, tapi entah kenapa mereka tidak sampai - sampai juga dari tadi.

"Hei, Frey... jalannya bener gak sih?" keluh Mir yang mulai kecapekan.

"Seharusnya bener kok.. harusnya..." gumam Frey tidak yakin.

Raungan sesuatu menghentikan langkah ketiga bocah itu. Inuki menengadah ke atas sambil menggeram perlahan. Phoenix Lexy entah kenapa terbang melaju ke depan Frey, diikuti Dino dan Inuki di belakangnya.

"Ah.. Hei!!" Freya mengejar keduanya, dan mau tidak mau Frey dan Mir pun mengikuti mereka. "Mau ke mana kalian?" Entah hanya perasaan Freya atau bukan, sesaat Dino terlihat melirik ke arah Freya, yang entah bagaimana Freya langsung mengartikannya sebagai 'ayo ikut saja'.

"Sepertinya insting mereka bagus.." gumam Frey dari belakang. Dan benar saja, penginapan mereka sudah terlihat di depan mata.

Friday, February 1, 2008

Rain of the Day

Pernah tau yang namanya hujan?

Ini cerita tentang hujan yang dari malem sebelum blog ini ditulis, sekitar jam 11an, udah mulai turun, n baru berhenti n masi gerimis2 kecil sampe saat blog ini ditulis, jam setengah 4 sore. Wew setengah hari lebih >.< tau kan akibatnya kalo ujan gak brenti2 kayak gini? Banjir... --"

Jam 8 pagi, gara - gara ada ujian, mau gak mau bocah di lantai 3 Golden Bowl ini berangkat juga ke Syahdan setelah terkekeh2 geli akibat sms dari temen sekelasnya yang bilang, "Le, nitip absen ya, ujan gede ni.." Emang nya bisa apa ^^;; kalo bisa mah si Guk-chan nya Mbul juga gw suru ngegantiin :p

Yap, jadi intinya, dengan berpayung2, 3 bocah GB yang lebih dikenal dengan Group S ini berjalan beruntutan menuju Syahdan dengan urutan payung warna merah, merah, dan abu - abu. Hujan udah lumayan deres waktu itu, n pas sampai di kampus, di depan kelas tempat ujian udah ada pameran payung jentrek2 (deret2an maksudnya) sepanjang lorong.

Pas udah masuk kelas, hujan di luar bukannya reda, malah tambah deres. Jadilah, pas kelar ujian pun masih nunggu supaya gak keujanan pas pulang. Ternyata yang ditunggu malah ngece --" artinya ujan gak mau tau, tetep aja deres segitu2 juga. Karena laper juga, akhirnya Group S++ ini masuk ke tempat ayam goreng penyet di sebelah gang Haji Senen. Makan dong tentunya, mengisi perut yang keroncongan.

Minuman udah dateng, nasi juga udah, tinggal nunggu ayam, tiba - tiba.. 'Tes.. Tes.." dari atas mengucur pelan - pelan air anget, padahal di atas ujan, harusnya dingin dong. Tapi karena ngucurnya di atas lampu, jd airnya anget2 gitu, kayak disetrum --" Jadilah lima bocah ini minggir ke meja belakang yang ternyata tak kalah bocor, sampai akhirnya mundur ke paling belakang, di meja yang ada komputer nya ^^;

Sambil makan, liat - liat luar, wuuhhhhh banjir coiiii >.<>.< jadilah sepatu yang udah bocel n mangap kiri ini terendam juga. Untung gak pake yang baru :p

Nyampe di kos, bagus banget, AC bocor pas di pinggiran kasur, anehnya, kasur lipet nya Mbul yg berdiri (nggak tegak sih, jatuh gitu maksudnya :p) gak basah sama skali --" cuman di kasur doang yang kena >.< duh2 dikasi jampi2 apa itu ama si Mbul xP. Inet juga masih mati tadi, dari kemaren malem pas mulai ujan.

Di TV, berita tentang ujan rame banget, ada mobil kijang yang nyampe kerendem gitu >.< wew, untung di sini cuman ngerendem kaki. Jam 3.20 AKHIRNYA si ujan brenti juga. Ngeliat dari jendela, pas ujan jalanan bisa sepiiiii banget kayak gak ada kehidupan, n barusan ini aja kehidupan kembali lagi menyambut terangnya matahari.

Bukannya ujan itu gak enak, tapi jangan lagi - lagi deh ujan pas ujian >.< cukup banjir - banjiran sekali, cukup sepasang sepatu aja yang jadi korban. Ahiak2 xP.