Monday, October 13, 2008

Your Name Never Gone -- Partners

Walaupun terlihat berdiri tegap dari kejauhan, tapi gedung di depan mata mereka ternyata tidak kalah hancur. Pintu berlapis kayu itu tampak remuk jadi dua. Jendela di bagian kanan dan kiri semuanya retak. Tidak ada satu kaca pun yang masih bertahan di tempatnya semula.

Sementara Shiro sudah masuk jauh ke dalam, Frey dan yang lain memutuskan untuk berkumpul sebentar di depan, berusaha menebak - nebak apa yang sudah terjadi pada Klaudi.

"Apa mungkin Tom mengamuk lalu menghancurkan satu kota?" ujar Mir yang langsung ditepis oleh Ren.

"Ini Tom, mana mungkin sih dia melibatkan orang lain. Memang sih orang lain di sini itu Lights semua, tapi sepertinya Tom nggak sebrutal itu."

"Hmm... kalau begitu..." Mir menimbang - nimbang mencari penjelasan lain.

"Nightmare..?" celetuk Freya sambil menatap kereta mereka yang ada di ujung sana. Frey mengangkat bahu.

"Mungkin. Nightmare yang pertama aja dari Shiro 'kan? Mungkin Mereka melakukan hal yang sama pada Tom, jadi ada Nightmare lagi, tapi yang kali ini jadi brutal."Frey manggut - manggut mengiyakan kesimpulannya sendiri.

Lexy yang biasanya sedikit cerewet masalah beginian, kali ini hanya diam saja. Ia sepertinya tertarik untuk masuk dan menyelidiki lebih lanjut, tapi selama keempat bocah yang lain tidak mau masuk, maka tidak ada satu pun yang masuk, begitu peraturan yang dibuat Frey barusan.

"Aku tidak mau ada yang kepisah lagi."

Entah dari mana munculnya, tiba - tiba dari atap gedung pertemuan itu muncul meteor yang meledakkan sebagian bangunan bagian belakang. Mata kelimanya terbelalak. Di dalam masih ada Shiro. Dengan nekad, Lexy berlari memasuki bangunan di depannya. Frey sempat menahan tangan Lexy, tapi segera melepasnya kembali saat Lexy berbisik lirih.

"Lepaskan tanganku.." Suara Lexy tidak seperti biasanya, dan hal itu membuat Frey sedikit merinding. "Kalian jangan ikut masuk. Tunggu saja di sini."

Tanpa ada yang membantah lagi, Lexy sudah hilang di antara pilar - pilar di dalam gedung. Seolah tau arah yang dituju, kaki Lexy membawanya melangkah ke ruangan kecil di balik lemari - lemari buku yang menjulang tinggi di tengah gedung. Sepasang meja dan kursi masih saja berdiri tegak di sana, seolah tidak terpengaruh kejadian di luar sana. Lexy tidak langsung duduk di kursi. Ia melangkah ke bagian belakang ruangan. Seperti sulap, tangan Lexy menekan sebuah tombol yang sama sekali tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Suara 'klik' pelan disambut dengan gerakan dinding di depannya yang terbuka perlahan. Sinar menyilaukan membuat Lexy memicingkan matanya. Saat mata Lexy sudah mulai terbiasa, ia mendengar suara yang sangat dirindukannya. Pekikan Phoenix yang disambut hembusan angin membuat Lexy menoleh ke belakang.

'Lex..'

"Yo." Tangan Lexy terulur sambil membelai Phoenix yang terbang rendah di depannya. Phoenix sudah akan bertengger di bahu Lexy, sampai tiba - tiba bocah di depannya jatuh tertubruk. Guri dan Inuki menindih badan Lexy sambil meloncat kegirangan. Sementara Brownie terbang pelan dengan Rabi mendampinginya. Lexy cuman menggerutu 'Ouch!" dan detik berikutnya ia sudah tersenyum puas karena sudah mendapat 'Jackpot'.

Tapi Jackpot nya bukan hanya itu saja..

Sunday, October 12, 2008

Your Name Never Gone -- Nightmare

"Di mana ini?" tanya Mir saat melihat pemandangan di depan matanya. Shiro bukannya menjawab, malah langsung menghambur keluar dari kereta.

"Ayo cepat!!"

Freya dan yang lain cuma bisa mengangguk dan menyusulnya. Ini pertama kalinya mereka melihat Shiro yang emosi bukan main. Biasanya ia malah tidak memperlihatkannya sama sekali.

Setelah mereka masuk ke bangunan yang menjulang tinggi di depan, Frey tiba - tiba menyadari sesuatu.

"Ini kan Mansion of the Beginning? Ingat 'kan? Yang waktu itu."

Keempat bocah yang lain cuman manggut - manggut membenarkan. Shiro tanpa mendengarkan kata - kata Frey langsung menaiki tangga spiral di depannya. Melewati koridor panjang, dan berhenti di depan sebuah pintu yang menjulang tinggi di depan keenamnya. Setelah mengambil nafas dalam - dalam, Shiro akhirnya membuka pintu itu, dan masih belum hilang dari ingatan Frey dan Lexy, sosok monster tinggi besar yang nyaris membuat mereka kehilangan nyawa. Nightmare.

Dengan sedikit terpaksa, kelima bocah itu mengikuti Shiro yang menghampiri sang monster dan menatapnya lekat - lekat.

"Aku butuh bantuan mu..." bisiknya pelan, dan Nightmare mulai bergerak. Kelima bocah di belakang Shiro hanya bisa mundur perlahan. Tanpa Partners yang mendampingi mereka, kembali melawan Nightmare sama saja dengan bunuh diri. Mereka cuma bisa berharap Shiro tau apa yang ia lakukan.

Berbeda dengan Nightmare sebelumnya, Nightmare kali ini bukannya semakin membesar, tapi malah menyusut, sampai seukuran tubuh Shiro. Sosoknya yang tampak seperti monster pun kali ini tidak ada lagi. Digantikan dengan sosok manusia, yang wajahnya hampir menyerupai Shiro.

"Antar kami ke Klaudi," perintah Shiro pada 'kembaran'nya itu. Nightmare di depan Shiro itu hanya memejamkan matanya, dan kereta hitam milik Tom berdiri tegak di belakang mereka. Persis saat mereka akan melarikan diri dan meninggalkan Shiro, Frey dan Lexy.

Kedua Shiro memasuki kereta itu, dan mau tidak mau Frey dan yang lain pun mengikuti.

"Kenapa tidak naik kereta putih mu itu?" tanya Lexy setelah kereta hitam itu akhirnya melaju. Shiro bukannya menjawab, tapi malah bungkam, sambil memalingkan wajahnya ke luar jendela. Padahal pemandangan di sekitar mereka hanya hitam pekat. Sama sekali tidak terlihat apapun.

Tidak sampai 10 menit, kereta mereka terhenti, dan saat pintu gerbong dibuka, pemandangan Klaudi yang dilimuti kegelapan pekat menyambut mereka. Sama sekali tidak ada cahaya dari lampu jalan yang dulu menyinari tiap sudut kota. Bangunan - bangunan yang dulu membuat mereka terpana, sudah tidak berdiri tegak lagi. Semuanya hancur berantakan. Jalanan mulus tanpa kerikil, saat ini bahkan untuk kaki melangkah saja sudah nyaris tidak ada tempat.

Shiro sama sekali tidak mempedulikan semua itu. Ia melangkah pasti, menuju ke ujung kota, di mana satu bangunan masih berdiri tegak tanpa cacat. Gedung pertemuan para Lights. Ren akhirnya memimpin yang lain untuk mengikuti Shiro, sementara 'kembaran'nya tetap berada di dalam kereta.

Friday, October 10, 2008

Us -- Accidentally Rejoined

Kelima bocah itu menoleh kaget, saat suara 'oooongggg' panjang yang sudah lama tidak mereka dengar tiba - tiba bergaung di Sands of Time.

"Aku tidak mendengar apa pun... ya 'kan?" gumam Mir sambil menatap tidak percaya ujung gerbong masinis yang bergerak mendekati kelima bocah tersebut. Bukan kereta hitam seperti yang mereka harapkan, melainkan kereta putih yang mereka yakin tidak akan mereka lihat lagi.

Shiro tampak menghambur keluar dari gerbong masinis. Kondisinya tampak aneh, membuat kelima bocah itu akhirnya menghampiri Shiro sambil menunda pertanyaan - pertanyaan yang sudah mereka simpan. Tubuh Shiro terasa dingin. Sedingin es. Sama sekali tidak ada kehangatan yang biasanya mengalir di tubuh manusia. Ujung jarinya terus bergetar, dan pandangan matanya tampak sedikit kabur.

"Shiro..?" panggil Lexy pelan. "Kau.. baik - baik saja?"

"Masuk ke dalam..!" Kelima bocah itu saling berpandangan, sebelum akhirnya mereka bergegas saat Shiro membentak, "CEPAT!!"

Cuma dalam waktu kurang dari 1 menit, kereta putih itu sudah melaju kencang lagi, dan pemandangan di kanan kiri mereka langsung berganti. Bukan lagi Sands of Time, tapi Sunset Town.

"Err.. rasanya kita baru saja pindah tempat..?" ujar Freya sambil memastikan bahwa matanya tidak terganggu.

Shiro bergabung dengan kelima bocah itu tak lama kemudian, dan Frey langsung melemparkan pertanyaan padanya.

"Apa yang terjadi? Kenapa kau tiba - tiba muncul setelah menelantarkan kami di rumah Ren?"

"Tolong, bukan saatnya untuk itu," Shiro tampak tidak sabar. "Tom.. Mereka membawa dia pergi..!"

"Ha? Siapa, ke mana?" sambar Lexy.

"LIGHTS!!" Dan Shiro tampak menyesal telah meneriakkan kata tersebut. "Maaf.. bukan maksudku.. ouwhh.." Sambil menelungkupkan kepalanya ke dalam kedua tangannya, Shiro terduduk lemas di sebelah Frey.

"Kami tidak akan membantumu kalau kau tidak cerita apa yang sebenarnya terjadi. Gimana?"

Setelah menghela nafas untuk kesekian kalinya, Shiro akhirnya buka mulut juga. 'Tujuan' Tom saat meninggalkan mereka semua di rumah Ren adalah memulangkan mereka. Begitu Ren dan Mir memasuki rumah, maka Frey, Freya dan Lexy secara otomatis akan terlempar ke Eve's Corner, begitu selanjutnya.

"Tapi kami-, aku, tidak berani masuk ke dalam rumah.."

Shiro berhenti sejenak dan melanjutkan kembali ceritanya. Setelah mereka berpisah, Tom dan Shiro bermaksud kembali ke Klaudi, 'menyelesaikan masalah yang belum selesai' dengan para Lights. Tapi justru itulah kesalahan terbesar yang mereka lakukan. Belum sampai setengah perjalanan menuju Klaudi, tiba - tiba kereta hitam Tom terguling ke samping. Tidak tampak ada tenaga yang mendorong kereta tersebut, dan tidak ada pula sesosok apa pun di sekitar mereka. Detik berikutnya, sebuah gerbong penumpang dengan Shiro di dalamnya, dipentalkan ke Plain of Illusion.

"..Itu tenaga terakhir yang dipakai Tom. Atau mungkin malah.. jiwa terakhirnya.."

Kereta putih itu berhenti di depan penginapan tempat kelima bocah itu pertama kali datang. Sepasang kakek dan nenek yang mereka kenal, tampak menyambut kedatangan mereka dengan kebingungan.

"Ada apa ini? Mana Tom?" tanya si nenek sambil memegang lampu minyak di tangan kirinya.

"Mau apa kita ke sini?" bisik Frey pada Shiro yang wajahnya masih saja tampak panik. Tanpa menjelaskan apa pun, Shiro menyeruak masuk ke dalam penginapan dan mulai mengobrak - abrik lemari tua di belakang meja penerima tamu.

Freya sibuk menjelaskan kepada pasangan tua itu tentang apa yang terjadi. Mereka hanya manggut - manggut, dan tampak sama sekali tidak terganggu melihat lemari di depan mereka itu berantakan. Beberapa menit kemudian, Shiro mendekap snowglobe yang lumayan besar. Tanpa mengucap kata permisi pada yang punya penginapan, Shiro langsung mengkomandokan kelima bocah itu untuk kembali naik ke kereta.

Sekali lagi, Freya dan yang lain meminta maaf pada pemilik penginapan yang cuma tersenyum.

"Hati - hati di jalan ya," pesan si kakek, sebelum akhirnya kereta kembali melaju, dan Shiro memberi komando sekali lagi.

"Pegangan yang kencang, jangan sampai terpental dari kereta."

Sinar memancar dari snowglobe di tangan Shiro, dan seperti yang terjadi di Eve's Corner, Shiro dan kelima bocah itu tersedot masuk ke dalamnya.

Tuesday, September 23, 2008

Us -- Frey and All of Them

Entah sudah berapa lama mereka tidur - tiduran santai. Hal berikutnya yang mereka ingat, adalah pemandangan yang sama sekali tidak mereka duga. Yang pertama kali menyadari hal ini adalah Frey. Insting nya memang lebih tajam dibanding yang lain, dan begitu kesadarannya kembali, ia cuma bisa terpana sambil membangunkan yang lain perlahan, agar mereka tidak panik.

Frey melangkah ke hamparan pasir di depan matanya. Sambil masih terdiam, ia mengambil sejumlah pasir yang di depan kakinya, merasakannya perlahan, dan berharap ia hanya bermimpi. Lexy yang kemudian menghampiri dan meremas bahu Frey. Berusaha menenangkan 'pimpinan' mereka itu.

"Aku sama sekali tidak merasakan apa pun.." gumam Frey akhirnya. "Sama sekali tidak ingat.. dan sama sekali tidak tau kapan kita tertidur, atau apa pun itu."

"Hei.. itu bukan tanggung jawab mu 'kan? Kita semua, masing - masing dari kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Jadi bukan salah mu kalau tiba - tiba kita 'terlempar' lagi ke padang pasir ini."

Tapi Frey terlihat tidak puas dengan balasan Lexy. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Lexy yang tau hal itu, langsung mundur dan menyerahkan Frey pada Freya.

Pemandangan di depan mata mereka memang begitu tidak enak dipandang. Padang pasir luas, tanpa sinar matahari yang menyengat, tanpa angin. Tapi penuh dengan potongan - potongan, baik itu potongan tanaman, perkakas, bahkan tubuh manusia. Sama sekali bukan pemandangan yang layak dilihat oleh kelima bocah itu.

Mir yang tidak tahan melihat hal seperti itu, cuma bisa duduk tertunduk sambil memegangi lengan baju Ren. Di sebelah mereka, Lexy memasang mata tajam ke sekelilingnya, entah mencari apa, yang jelas ia begitu tertarik pada tempat ini. Sampai sejauh ini, tempat yang mereka kunjungi adalah tempat di mana mereka dulu tinggal. Rumah Ren dan Mir, Eve Corner miliknya, terakhir adalah kamar Freya.

"Hei, Frey..." panggil Lexy. "Kau.. yakin tidak mau bercerita?"

"Ngomong apa kau Lex? Ini bukan saat nya untuk itu tau-" omel Ren, yang langsung dihentikan oleh Lexy.

Frey sama sekali tidak menjawab panggilan Lexy. Ia masih saja berlutut sambil memainkan pasir di dekat kakinya. Freya yang sepertinya tau apa maksud Lexy, langsung memeluk kembarannya itu dengan lembut.

"Tempat ini.. adalah Sands of Time." ujar Frey akhirnya setelah melepas pelukan Freya. "Semua yang hilang termakan oleh waktu, akan dipindahkan, atau tepatnya, dibuang ke tempat ini."

"Apa hubungan tempat ini denganmu?" selidik Lexy.

"... di tempat ini... aku membuang 'rasa percaya'..." Jawaban Frey tidak memberi penjelasan apapun, tapi Lexy tetap diam, menunggu lanjutannya. Dan Frey segera bercerita kembali.

Kejadian itu terjadi 3 tahun yang lalu, saat Frey pertama kali 'melarikan diri'. Demi membawa Frey kembali ke rumah, kedua orang tuanya rela melakukan apapun. Termasuk membawa nama Freya. Satu kali, mereka membawa kabar bahwa 'perusahaan' bangkrut, dan mereka tidak tau harus berbuat apa. Tapi Frey tidak terisolasi dengan dunia luar, sehingga ia tau bahwa kedua orang tuanya cuman bohong.

Dua kali, saat Frey sedang pulang ke rumah, ia tiba - tiba dikunci di kamarnya sendiri. Dan sekali lagi, Frey bisa lolos, lewat jendela kamarnya yang terhubung ke kamar Freya. Sampai saat itu, Frey masih mengira bahwa itu hanya keusilan kedua orang tuanya saja. Sampai insiden terakhir terjadi.

Saat itu, Frey baru saja membelikan HP untuk Freya, dan suatu keharusan bahwa HP itu harus selalu aktif. Suatu kali, Frey sama sekali tidak bisa menghubungi Freya. Insting nya pun mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Tepat saat itu, kedua orang tuanya kembali datang. Freya kecelakaan. Begitu kata mereka. Dengan panik, Frey meluncur ke House Hospital. Tapi sebelum sampai di tempat, 'sesuatu' di dalam kepalanya memanggil berulang - ulang. Meminta Frey untuk pulang ke rumah.

Benar saja, Frey mendapati Freya kehabisan napas gara - gara kamarnya diisolasi. Oleh kedua orang tuanya. HP Freya disembunyikan, sehingga ia tidak bisa menghubungi siapa - siapa.

"Shock. Cuma itu yang kurasakan. Satu minggu berturut - turut aku terus berada di sebelah Freya, yang kubawa ke kontrakanku. Antara sadar dan tidak, hampir setiap hari aku melihat padang pasir ini. Sampai akhirnya aku mengerti, ini adalah tempat orang membuang sesuatu dalam dirinya. Dalam kasusku, aku membuang 'rasa percaya pada orang lain'. Terutama orang tua ku."

"Anehnya, walaupun aku tidak sadar, aku bisa melihat apa yang dilihat Frey," lanjut Freya. "Makanya aku tidak heran saat melihat Sands of Time ini."

"Apa aku juga bisa membuang sesuatu di sini?" tanya Ren memecah keheningan. Frey cuma mengangguk. "Aku ingin membuang 'rasa takut'." Jawaban mantap Ren cukup untuk membuat Mir mengangkat kepalanya, dan mengatakan hal yang sama.

Frey cuma bisa tersenyum tipis. Berbagai pikiran buruk sudah memenuhi benaknya beberapa saat tadi. Membuang 'rasa percaya' sama saja dengan 'tidak percaya pada siapa pun'. Tapi nyatanya, ketiga temannya ini sama sekali tidak keberatan. Satu hal ini membuat Frey begitu nyaman, untuk yang pertama kalinya sejak 3 tahun yang lalu.

Saturday, September 13, 2008

Us -- Freya and All of Them

Kelima bocah itu cuma bisa duduk terdiam sambil menatap nanar ke arah lantai yang mereka pijak. Tanpa perlu dijelaskan pun, mereka tau, ini adalah kamar Freya, kamar yang tadi mereka lihat di dalam snow globe Heather.

"Lagi..." gumam Lexy pasrah. "Sebenarnya apa yang terjadi sih..."

Yang lain cuma bisa duduk terdiam. Berbeda dengan Ren yang ketakutan di tempat asalnya, Freya tampak tenang - tenang saja. Malah ia seperti bernostalgia, melihat - lihat berbagai hiasan di atas mejanya, pakaian - pakaian di lemari nya, dan juga koleksi kaset game yang dulu sering dimainkan bersama Frey.

"Mum belum pulang ya?" tanya Frey, yang dijawab dengan gelengan kepala Freya.

"Kau tau lah.. Mum kan paling tidak betah di rumah. Jam segini sih, pasti lagi keluyuran entah ke mana dengan jaguarnya. Dad juga tidak mau tau lagi soal Mum. Terakhir kali aku di sini, sudah 2 minggu mereka tidak ngomong satu sama lain."

Frey menghela nafas sambil mengomel, "Masa aku lagi sih yang harus menengahi mereka.. Kan mereka sudah dewasa.. Hhhh..."

"Kalian ini sama sekali tidak khawatir ya.." sindir Lexy yang masih terduduk lemas. "Ren, ngomong sesuatu dong, dari Eve Corner diem mulu. Bosen tau!"

Ren cuma bisa memandang Lexy sinis. "Emangnya aku tukang ngelucu apa?" gerutunya, yang disambut kekehan Mir.

Beberapa saat kemudian, Freya mulai bercerita tentang orang tuanya yang lebih mementingkan Frey daripada dirinya. Frey pun tidak membantah, dan hanya bisa menepuk kepala adik kembarnya itu dengan penuh sayang. Pada dasarnya Freya memang anak yang pemberontak, bukan pemikir berkepala dingin seperti Frey, makanya ia pun hanya bisa menunjukkan sikap protesnya dengan cara ngambek, menolak semua keinginan orang tuanya.

Sedangkan Frey yang saat itu memilih melarikan diri dari kehidupan rumah, cuma bisa memberikan dukungan moral pada Freya secara diam - diam. Bahkan untuk menemui dan membawakan apa pun yang dibutuhkan Freya, Frey harus melakukannya di malam hari saat Freya sedang tidur.

Mir cuma bisa manggut - manggut mendengar cerita mereka. Ia tidak menyangka Freya yang selalu terlihat cengar cengir ternyata juga punya masalah sendiri. Lexy tampak tidak heran, karena masalah mereka hampir mirip. Reaksi tak diduga datang dari Ren, yang mengatakan bahwa ia bersyukur bahwa 'Ibu' nya tidak seperti itu.

"Sejelek apa pun kelakuan nya, tapi aku tetap masih bersyukur ada dia," gumam Ren. Untuk sekali ini, Lexy terlihat salut pada Ren.

"Aku sudah lama tidak pulang, aku mau liat - liat isi rumah ah. Ikut?" tawar Frey pada yang lain, dan berikutnya, mereka sudah mengadakan tur dalam rumah.

Rumah bagai istana itu punya ruangan yang banyak sekali, membuat Ren berkata untung dia tidak sendirian di sini, kalau tidak, mungkin dia bisa nyasar. Ruangan lain tidak kalah besar dengan kamar Freya, terutama kamar Frey, yang luasnya hampir 3 kali lipat besarnya.

Kelima bocah itu berhenti di taman belakang yang penuh dengan tanaman. Di ujung terdapat kolam renang dengan dudukan di pinggiran sekitarnya. Mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya menatap nanar ke arah langit. Berharap sesuatu turun dari langit, dan menjemput mereka ke dunia di mana masih ada Inuki, Phoenix, Brownie, Guri, dan Rabi.

"..Guri lagi ngapain yaaa..." gumam Freya lemas. "..Tom.. Shiro... mereka di mana yaa..." lanjutnya.

"Mereka pasti baik - baik saja." jawab Lexy mantap. "..pasti.."