Thursday, July 10, 2008

Return to Tomorrow -- Those Who Left Behind part 4

Sambil menghela nafas, Frey menceritakan apa yang terjadi sejak mereka tiba di Mansion of the Beginning ini. Tentang Lights yang telah menguasai mansion, 'Shiro' palsu yang membawa Shadow untuk menyerang mereka, dan tentang Tom yang pergi duluan meninggalkan mereka. Tidak seperti dugaan Frey, Shiro malah jadi jauh lebih tenang setelah mendengar ceritanya.

Sementara itu, Lexy masih merebahkan badannya, seolah - olah Nightmare sudah dikalahkannya, padahal ia masih menjulang tinggi di hadapan mereka, tapi perlahan badannya mulai tidak bergerak. Ujung kakinya tampak membatu, menjadi satu dengan lantai tempatnya berpijak.

'Selesai...' gumam Phoenix sambil mendarat di sebelah Lexy.

'Fuwaahhh', Guri langsung mengambil posisi di antara Lexy dan Phoenix. 'Shiro?'

Yang dipanggil malah berdiri dan menghampiri Nightmare. Disentuhnya ujung kaki Nightmare yang ukurannya hampir 2x lipat tubuhnya sendiri. Tidak ada tanda - tanda Shiro telah melakukan sesuatu, tapi tiba - tiba saja, kereta putih muncul di rel kereta tempat kereta hitam sebelumnya menjulang tinggi.

"Fuuww, kereta baru?" puji Lexy. Tapi Frey memberikan reaksi yang berbeda.

"Shiro, kau..!"

"Hm? Kenapa Frey?"

"Lex, kau lupa penjelasan Tom tentang kereta hitamnya?"

Tidak perlu waktu lama, kepala Lexy dipenuhi pikiran yang sama dengan Frey. Sementara Shiro yang merasakan pandangan aneh dari keduanya, cuma menatap nanar ke arah Nightmare yang sekarang sudah membatu sepenuhnya.

"Ingatanku kembali.." gumam Shiro masih menatap Nightmare.

"Tentang Rabi?" tanya Frey, yang dijawab dengan anggukan kepala Shiro.

"Di Klaudi, aku cuma bisa mengingat tentang Tom yang melarikan diri, dan janji para Lights padaku. Tapi aku melupakan satu hal. Aku dan Tom- bukan, aku, Tom, dan 2 orang temanku. Kami datang membawa Partner, yaitu Rabi. Saat itu tidak ada kereta hitam seperti yang kalian tumpangi sekarang."

"He? Lalu, bagaimana cara kalian bisa sampai ke sini?" Lexy langsung duduk tegak.

"Lights. Kau pun seharusnya tau," ujar Shiro sambil menoleh ke Lexy. "Di Colloseum Roundtrap, saat kau diselimuti cahaya putih, kau kira itu apa kalau bukan Lights. Mir juga begitu. Lights bisa memindahkan kami ke kota lain, termasuk Ciella, karena itu kami percaya pada mereka. Kecuali Tom."

"..lalu.. apa Lights masih ada di sini?" Lexy tiba - tiba menyadari bahwa Mansion ini pada awalnya sudah diambil alih oleh Light. Tapi Shiro menggelengkan kepalanya.

"Bukan kebiasaan mereka untuk menetap di sini, lagipula Tom sudah bisa bergerak bebas 'kan? Itu artinya mereka sudah pergi dari sini, dengan 'hadiah' yang sangat bagus ini." Mata Shiro kembali menatap Nightmare. "Bahkan aku pun dimanfaatkan.."

"Tom katanya cuma bisa melihat kau dibawa oleh Light.. benar?"

Shiro mendengus geli sambil mengiyakan. "Dia itu Shadow 'kan? Mana bisa dia bergerak. Waktu kalian menemukannya pun dia cuma berdiri diam 'kan?"

"Lalu?" Frey meminta kelanjutan dari kata - kata Shiro. "Apa kau sekarang.. sama dengan Tom?"

Akhirnya Shiro berani menoleh menatap Frey. 'Senyuman miris' ala Tom segera menghiasi wajahnya, dan itu cukup memberi penjelasan tentang kereta putih di depan mereka.

"Ayo, kita susul Tom dan yang lain."

"Satu lagi!" potong Lexy. "Katanya Nightmare tidak mungkin bisa muncul di sini. Lalu?" Tuding Lexy ke monster di depan mereka.

"Bisa dibilang... ini 'jiwa' ku yang satu lagi.."

Sunday, July 6, 2008

Return to Tomorrow -- Those Who Left Behind part 3

Tubuh Lexy terkulai lemas di lengan Frey. Tenaganya seperti hilang tak tersisa, tapi kesadarannya memaksa agar tubuhnya tetap berdiri tegak, menghadapi Nightmare di depannya.

"Lex.." Frey membujuk agar Lexy berhenti. Tapi yang ditopang sama sekali tidak menunjukkan tanda - tanda akan mundur.

Nightmare kembali menatap Lexy dengan mata kuning nya, dan tentu saja, Lexy kembali mengalami gejala mati kutu seperti sebelumnya. Tapi kali ini Lexy mengangkat kedua tangannya tinggi - tinggi, berusaha melindungi tatapan mata Nightmare sambil mengeluarkan cahaya dari tangan kanannya.

Serangan pertama berhasil, mata kiri Nightmare terkena serangan Lexy dengan telak. Tapi bukannya pengaruh matanya itu hilang, mata kanan Nightmare malah memancarkan serangan yang lebih dahsyat lagi. Tangan Lexy, yang walaupun sudah menutupi kedua matanya, serasa bisa ditembus oleh pandangan mata Nightmare, dan jadilah Lexy terkapar seperti sekarang.

"Mau gantian?" Frey menawarkan diri, dan ditolak langsung oleh Lexy yang sudah mau bangun lagi, sebelum akhirnya Phoenix mendarat di hadapan mereka.

'Kau mau mati ya?!' Baru kali ini Phoenix membentak Lexy, dan anehnya tidak ada kata - kata bantahan dari Lexy yang biasanya keras kepala. '..5 menit.. setelah itu baru kau boleh bangun lagi..' Phoenix mengembangkan sayapnya, dan terbang lagi, menyerang lingkaran hitam yang tadi terbukti lumayan efektif buat menghajar Nightmare.

Dari belakang Frey, Guri mulai sadar, dan mengikuti Phoenix. Serangan Guri memang berbeda dengan Inuki, Phoenix, dan yang lain. Caranya menghabisi Shadow adalah dengan memakannya, dan itulah yang dilakukannya pada lingkaran hitam di belakang Shiro. Phoenix terpana beberapa saat, karena tidak butuh waktu lama buat menghilangkan 'black hole' itu.

Efeknya memang hebat. Perlahan, ukuran Nightmare mulai mengecil, setengah dari besar badannya yang tadi, walaupun memang masih terlihat seperti raksasa di hadapan mereka.

'Shiro..!' Phoenix menyadari perubahan di pandangan mata Shiro yang tadi nya kosong. Bola mata hijau nya mulai kembali menunjukkan kesadaran.

"..eh..?"

Tanpa disuruh, Guri langsung menyambar tangan Shiro dan membawa nya ke dekat Frey dan Lexy.

"..apa yang terjadi..? Mana Tom..? Yang la- argh..!" Shiro tertelungkup lemas, persis seperti Lexy.

"Errhh..." erangan Lexy membuat Frey menoleh. "Dia sudah sadar ya..? Terus kenapa lagi sekarang..?" gerutu nya, dan geplakan Frey untuk kesekian kali nya mendarat di kepala Lexy. "Oi, Shiro..!"

"..kenapa Nightmare bisa muncul...?" Shiro balik bertanya. "..seharusnya dia tidak mungkin muncul di sini.. tapi kenapa..?" gumaman Shiro melantur selama beberapa saat, sampai akhirnya ia kehabisan kata - kata dan hanya bisa memanggil orang di dekatnya, "..Frey..!"

"Mana kutahu!" bentak Frey kesal. "Aku tidak tau..."

Saturday, June 28, 2008

Return to Tomorrow -- Those Who Leave Ahead part 2

Kereta hitam itu akhirnya berhenti, walaupun tidak ada stasiun maupun tempat pemberhentian semacamnya. Hanya rel yang terus memanjang dari arah mereka datang sampai entah ke mana. Suasana di kanan dan kiri rel itu hanya kosong. Cuma langit merah abu yang menopang rel dan kereta yang berjalan di atasnya. Beberapa menit berlalu, tapi tidak ada seorang pun yang keluar dari gerbong di dalamnya. 

Rabi menghunus pedangnya terarah ke leher Tom. Pemandangan itu lah yang membuat suasana gerbong menjadi sunyi senyap. Tom tidak berusaha mengelak. Malah sepertinya ia berharap pedang itu bisa menusuk tenggorokannya. 

'Aku tanya sekali lagi... Apa Frey bisa sampai ke tempat kita nanti?' 

Dengan lemas, Tom memalingkan wajahnya. Ujung pedang Rabi sedikit bergeser, membuat guratan luka di leher Tom, yang segera menutup tanpa mengeluarkan darah.

"Lupa? Aku sudah tidak punya tubuh manusia lagi. Jadi mau kau apakan pun, aku tidak akan terluka. Yah, memang ada bekasnya sih, sakit juga sedikit, tapi tidak ada lagi yang namanya darah."

'Jawab pertanyaanku...' Rabi mulai tidak sabar. Ujung pedangnya kini beralih ke letak jantung Tom.

"Rabi hentikan," Freya akhirnya buka mulut. "Frey pasti baik - baik saja. Dia lebih kuat daripada penampilannya kok."

"Lagipula percuma kau arahkan pedang padanya." Kali ini Ren yang maju. "Sudahlah.." Tangan Ren menggenggam ujung pedang Rabi dan menyingkirkannya dari Tom. Darah segar mengalir dari telapak tangannya yang mengenai mata pedang. Sebelum kembali duduk, dengan pandangan sinis ia berkata pada Tom, "Masih hidup itu enak yaa.."

Berbeda dengan Inuki dan yang lain, Brownie punya kekuatan penyembuh yang bahkan tidak dimiliki Phoenix. Luka Ren dalam sekejap sudah menutup, tapi bekas darah di tangannya menetap di telapaknya. Rabi yang sudah tenang kini duduk diam di sebelah Freya yang masih berdiri tegang.

"Jadi mereka tidak bisa menyusul?" Mir mengembalikan topik pembicaraan.

"Kalau mereka bisa mengalahkan Nightmare, maka menyusul kita bukan hal yang tidak mungkin 'kan? Apalagi itu berarti Shiro sudah kembali sadar. Dia pasti bisa membantu Lexy dan Frey."

'Kau pikir Nightmare itu Shadow biasa? Kau sendiri yang bilang kalau dia itu Shadow terkuat.' Emosi Rabi kembali memuncak. 'Cuma gara - gara Frey bilang agar aku ikut denganmu makanya aku percaya bahwa dia bisa menyusul kita. Tapi kau malah...'

"Maksudnya.. Kau tidak percaya pada Frey?" 

Kali ini tanpa basa basi Rabi menyabetkan pedangnya begitu saja, meninggalkan koyakan diagonal di baju Tom. Luka menganga terlihat di dada Tom, yang kemudian langsung hilang tanpa bekas sekali lagi.

'Jangan berani - berani kau berbicara tentang Frey.'

"Rabi!" Freya mendorong Rabi agar kembali ke tempat duduknya. 

Suasana kembali hening. Tom akhirnya menghela nafas dan berbalik menuju gerbong masinis. Tak lama kemudian, kereta hitam kembali melaju perlahan. Lebih pelan daripada biasanya. 

"Di depan sana ada stasiun. Lebih baik kita menunggu di sana," suara Tom menggema di gerbong penumpang. "..aku akan mencari cara agar mereka bisa menyusul.. tanpa harus mengalahkan Nightmare..."

'..sudah seharusnya 'kan....'

Freya menepuk kepala Rabi, berusaha menenangkannya, dan berusaha menenangkan diri nya sendiri. Ia tau, Frey pasti baik - baik saja, karena mereka punya ikatan batin yang kuat. Jika ada apa - apa pada Frey, pasti Freya langsung tau, dan pasti ada cara untuk menghubunginya.

Sambil mengatupkan kedua tangannya, Freya bergumam dalam hati, memanggil nama kembarannya kuat - kuat.

Wednesday, June 25, 2008

Return to Tomorrow -- Those Who Left Behind part 2

Setengah frustasi, Lexy dan Frey cuma bisa berlari memutar sambil menyerang Nightmare di depan mereka. Phoenix masih melayang di atas, sedangkan Guri, gara - gara serangan terakhir tadi akhirnya terkapar tidak bergerak.

"Dia pasti akan membunuhku~~" gerutu Lexy sambil membawa Guri ke tempat yang aman.

"Makhluk ini masa tidak ada celahnya sama sekali sih.." Kali ini giliran Frey yang bersimbah keringat.

Lexy menengadahkan kepalanya ke arah Phoenix. Tapi yang dipandang cuma bisa terbang merendah sambil menggelengkan kepalanya, membuat Lexy makin frustasi.

"Bisa tewas kita kalo menyerang serabutan kayak tadi. Ayo Lex, berpikirlah...!" gumam Lexy pada dirinya sendiri.

Gerakan Nightmare makin lama makin gesit, dan itu membuat mereka berempat tambah kelimpungan, karena memandang mata Nightmare saja sudah membuat Lexy jatuh bangun tak karuan. Shiro pun masih tetap berdiri tegak di tempatnya berada, seolah - olah efek dari serangan yang terjadi di sekitarnya sama sekali tidak sampai ke tempatnya berdiri.

"Hey Lex.. Di belakang Shiro itu apa sih? Dari tadi hilang muncul terus.."

"Lingkaran hitam itu? Humm... Sebentar.."

"Oi!" Frey berusaha menghentikan Lexy yang sudah lari mendekat ke arah Nightmare. Ke arah Shiro tepatnya.

Langkah Lexy berhenti tepat di depan Shiro. Seolah di sana adalah titik buta, Nightmare di sebelahnya malah berjalan ke arah sebaliknya, berfokus pada Frey dan Phoenix. Raut wajah Lexy sedikit cerah. Ia berputar ke sisi samping Shiro, mengangkat tinggi tangannya, dan menunggu lingkaran hitam di belakang punggung Shiro untuk keluar sekali lagi, dan BUM!

Cahaya biru dari tangan Lexy berhenti tepat di tengah lingkaran hitam yang mirip black hole itu. Suara ledakan kecil terdengar dari dalamnya, dan saat Lexy mendekatkan kepalanya, ia terpental jauh ke belakang, sampai ke sebelah Frey berdiri. Sambil menolak untuk dibantu berdiri, Lexy sekali lagi mendekat lingkaran hitam yang tidak hilang juga itu, dan melakukan serangannya sekali lagi, dan kemudian terpental lagi.

"Kamu kok jadi tambah bodoh sih.." gumam Frey setengah bercanda sambil mengulurkan tangan, yang langsung ditampik oleh Lexy yang ngambek. "Berhenti dulu sini. Coba liat Nightmare itu." Frey menunjuk pada Nightmare yang gerakannya ternyata makin lambat.

"Humph!" Lexy mendengus bangga.

"Yah, paling tidak kamu tidak terpental sia - sia Lex. Sana maju lagi!" Kali ini Frey mendorong Lexy maju.

"Grr. Bentar, masih ada lagi yang mau kucoba. Hummhhh..." Lexy kali ini maju perlahan ke depan Nightmare yang menolehkan kepalanya perlahan. "Frey, tahan aku ya."

"OK.." Frey bersiap di belakang Lexy, yang memutuskan untuk sekali lagi menatap mata kuning Nightmare yang menjulang tinggi di depannya itu.

Saturday, June 21, 2008

Return to Tomorrow -- Those Who Leave Ahead part 1

Suasana gerbong tidak menunjukkan adanya aktivitas komunikasi sama sekali. Freya terus memandang keluar jendela, ditemani oleh Rabi. Ren menengadahkan kepalanya ke atas sambil memejamkan matanya. Mir duduk manis di sebelahnya, sambil sesekali membelai kepala Inuki. Brownie pun hanya menyembunyikan kepalanya diantara kedua sayap kokohnya. 

Tom tidak menunjukkan sosoknya sejak memasuki gerbong lokomotif, padahal biasanya ia selalu berkumpul di gerbong tengah bersama mereka. Tidak ada yang berniat untuk mengintipnya ke gerbong depan. Tidak ada juga yang menanyakan tentang keberadaannya. Seolah - olah ini adalah pertama kalinya mereka berada dalam 1 gerbong, dan belum pernah kenal sama sekali.

Suasana hening itu akhirnya pecah juga. Rem mendadak membuat Freya menoleh, dan Ren membuka matanya. Tidak perlu waktu lama untuk menantikan Tom masuk ke dalam gerbong itu. Raut wajahnya tampak kucel. Mulutnya tampak ingin berkata sesuatu, tapi tidak ada kata - kata yang keluar. 

"Mau ngomong apa?" Freya kehabisan kesabaran. 

"..nggak.. dah.." Tom sudah akan berbalik meninggalkan gerbong, tapi Mir menarik tangannya. Sekali lagi tamparan keras mendarat di pipinya. Kali ini Tom memberikan reaksi yang benar, ia tampak bingung melihat raut wajah Mir yang ternyata tidak kalah kucel dari nya. "..aku salah lagi ya?"

"Masih nanya lagi?" geram Mir. "Kalau mau ngomong ya ngomong dong! Jangan setengah - setengah begitu! Gara - gara itu Shiro sampai..! Ahhh... aku tidak tau ah!" Mir kembali ke posisinya semula di sebelah Ren.

"..maaf.. gara - gara aku egois ingin pergi.." Akhirnya Tom buka mulut juga. "..sampai meninggalkan Frey dan Lexy segala... Guri, Rabi, Phoenix juga... aku benar - benar minta maaf.."

"Minta maaf nggak bakal bikin mereka tiba - tiba muncul di sini 'kan?" 

Tom melirik lirih ke Ren, lalu menggeleng perlahan. 

"Sekarang kita mau ke mana sih?" Freya angkat bicara lagi. "Mau terus berhenti di sini?" Dan perlahan, kereta itu berjalan lagi. Pelan dan pasti. "Jadi, mau ke mana?"

"..tidak tau..."

Freya hanya menghela nafas, seolah berkata, 'Sudah kuduga..'. Tapi kemudian ia kembali menatap Tom.

"Mereka bisa menyusul kita 'kan?"

"Frey dan Lexy," sambung Ren. "Mereka bisa sampai ke tempat kita 'kan?"