Tuesday, September 9, 2008

Us -- Heather and All of Them

"Ou, Lex!" 

"Sejak kapan di sini? Kenapa tidak membangunkan ku?" tanya Lexy bertubi - tubi. "Lo, sudah kenal Ren?"

Heather mengangguk. "Tadi kami sedang ngobrol," lanjutnya. Lexy cuma manggut - manggut.

"Yang lain sudah kenal?" Heather menggeleng, dan dengan cepat Lexy mengenalkan Mir, Frey, dan Freya. Tidak seperti Lexy yang biasanya cool dan selalu diam, kalimat demi kalimat meluncur dari mulutnya. Mirip anak kecil yang bercerita dengan seru ke teman baiknya.

Heather memang masih kecil, ia bahkan lebih muda dari Freya, dan penampilan luarnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia adalah pimpinan Eve Corner. Ada aura yang tidak bisa dijelaskan memancar dari dirinya. Hal itulah yang membuat bahkan preman sekelas Gaku pun tunduk padanya. Tapi dibilang begitu, Heather malah tersipu malu.

Eve Corner di waktu siang benar - benar berbeda dengan malam hari saat mereka pertama kali datang. Semua lorong terlihat jelas, bahkan gorong - gorong yang biasa dipakai penghuninya untuk kabur saja terlihat jelas. Meskipun begitu, tidak ada satu orang polisi pun yang berani mengobrak - abrik Eve Corner di siang hari.

"Heather adalah penguasa Eve Corner di malam hari. Tapi di siang hari, Heather adalah Sun's Girl. Matahari di sini adalah sekutunya, dan kalau ada polisi macam - macam di sini, jangan tanya deh apa yang terjadi," terang Lexy panjang lebar, dan Heather cuma bisa menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Heather mengajak mereka berkeliling ke sekitar Eve Corner dan ke sudut - sudutnya. Dan sebagai penutup, ke tempat terakhir dari Eve Corner, Blanc Eve, alias tempat tongkrongan Heather seorang. Lexy cuma bisa termangu saat mereka melewati lorong yang tidak asing di matanya. Kakinya seperti susah maju, tapi begitu Heather bilang tidak apa - apa, akhirnya Lexy menurut.

Blanc Eve sama sekali tidak mengerikan, tapi memang berbeda dengan lorong yang lain. Pintu masuk nya mirip pintu kamar anak cewek, dan ternyata isi nya pun tidak jauh berbeda. Yang sedikit lain, ada tangga menuju ke atas, di mana Eve Corner bisa dilihat dengan sekali pandang.

"Apa itu?" Mir mendekati lemari kaca dengan banyak snow globe di dalamnya.

"Oh, itu koleksiku!" ujar Heather bangga. "Sejak penghuni sini tau aku mengkoleksinya, mereka jadi membawakannya untukku. Makanya jadi banyak seperti ini."

Mir manggut - manggut. Heather mengangguk ramah saat Freya bilang ingin liat semua koleksinya. Segera saja Freya dan Mir menyerobot ke lemari kaca di depan mereka. Sambil mengomel agar mereka hati - hati, Ren dan Lexy akhirnya ikut - ikutan juga. Frey tetap berdiri di tempatnya, sementara matanya menatap ke sebuah snow globe yang terletak di ujung meja. Secara reflek, Frey langsung mengangkat snow globe itu dan mengamatinya lekat - lekat.

"Itu kesayanganku lo," gumam Heather. Frey mengangguk pelan. Snow globe yang ini sedikit berbeda dengan yang lain. Isinya hanya perabot kamar anak cewek, lengkap dengan tempat tidur, lemari, meja belajar, bahkan boneka - boneka di ujung snow globe. "Dulu, itu adalah kamar sepasang anak kembar," lanjut Heather, membuat Frey mengerutkan keningnya. "Tapi tidak berapa lama kemudian, sepasang anak kembar itu tidak lagi sekamar. Mereka memisahkan diri secara fisik. Tidak saling bertemu, tidak saling bicara. Tapi pikiran mereka masih terhubung satu sama lain."

Freya yang tadinya masih berkutat dengan Mir, sekarang sudah berdiri di sebelah Frey, ikut melihat snow globe yang dipegang saudara kembarnya itu. Isi di dalam snow globe itu mulai berubah. Persis seperti klip video, memutarkan cerita yang tadi diucapkan Heather.

"Saat ini sepasang anak kembar itu sedang melakukan perjalanan. Tapi, setengah jiwa dari salah satunya tetap tertinggal di kamar yang dulu mereka huni. Ia tidak mau pergi meninggalkan kamar di mana mereka dulu bisa bermain bersama, berbagi semuanya berdua, dan melakukan hal - hal yang mereka suka bersama."

"..Heather..?" Lexy mulai menyadari ada sesuatu yang aneh pada Heather. Tidak biasanya ia ngelantur begini. Tapi sama sekali tidak ada yang berubah darinya. Ren dan Mir memutuskan untuk ikut melihat snow globe di tangan Frey.

Sekeliling mereka mulai bergetar. Tapi lantai tempat mereka berpijak sama sekali tidak bergeming. Bangunan - bangunan di sekitar Eve Corner mulai tersedot masuk ke dalam snow globe di tangan Frey.

"..! Sama seperti waktu itu!" gumam Lexy panik. "Heather! Apa yang terjadi?!"

Tapi yang ditanya cuma tersenyum manis sambil berkata, "Sudah waktunya. Kalian harus pergi lagi. Tenang saja, kalian pasti baik - baik saja. Terutama kau, Lex." Heather mengatupkan kedua tangannya ke tangan Lexy.

Keempat bocah yang lain seperti terhipnotis ke dalam gambaran yang muncul di snow globe itu. Mereka sama sekali tidak sadar apa yang terjadi di sekitarnya.

"Jaga diri ya," ucap Heather terakhir kalinya, sambil mengecup kening Lexy.

Saturday, September 6, 2008

Us -- Heather and Ren

Sinar matahari yang sudah lama tidak mereka rasakan, pagi itu menyengat kulit kelima bocah yang masih saja tertidur pulas di tempat masing - masing. Ren yang kemarin terlihat begitu tertekan, saat ini sudah bisa mengedipkan matanya dengan malas. Tidak ada lagi rasa cemas dan khawatir seperti kemarin malam.

Siluet seseorang yang tiba - tiba muncul di depan pintu masuk, tidak membuat Ren kaget sama sekali. Malah ia terlihat lebih kalem daripada biasanya. Ren menatap sosok di depannya sambil tersenyum seolah ia mengenal anak perempuan itu.

"..Heather.. ya 'kan?" ucap Ren pelan. Yang dipanggil cuma mengangguk sambil memasang senyum manis.

"Lex masih tidur?" tanya Heather dengan suara nyaringnya, dan ia cuma bisa terkekeh geli saat melihat wajah polos Lexy dengan mulut yang setengah terbuka dan suara dengkur pelan.

Mata Ren tidak bisa lepas dari Heather. Entah kenapa, ia merasa bahwa Heather adalah orang yang sudah sangat lama ingin ditemuinya. Sudah dari duluuuu ia ingin bertemu, dan akhirnya mereka berhadapan satu sama lain. Heather pun sepertinya merasakan hal yang sama. Senyumnya kembali terkembang saat matanya menatap Ren.

Memberanikan diri, Ren bercerita tentang dirinya. Bagaimana ia bisa menemukan Inuki, kabur dari rumah, bertemu Lexy dan yang lain, kereta hitam Tom, pergi ke Klaudi, bertemu dengan Shiro, melawan Nightmare. Lalu, walaupun itu hal yang paling sering dihindarinya, Ren menceritakan tentang Ibu nya yang ia temui sebelum ia sampai di sini. Heather cuma manggut - manggut, dan berikutnya, giliran dia yang bercerita.

"Waktu aku masih 5 taun, aku mulai bisa melihat hal - hal yang bahkan orang tua ku pun tak mengerti. Kabut hitam dan putih terlihat berjalan berdampingan dengan orang - orang yang kukenal. Saat itu aku masih belum bisa melihat dengan jelas, dan saat akhirnya kabut itu mulai terlihat jelas.."

Ren mendekatkan wajahnya sambil membuka kupingnya lebar - lebar.

"...aku melihatmu," ucap Heather dengan mata berbinar. "Rumah reyot di padang rumput gersang, kamar gudang penuh tumpukan dus, sofa tua bulukan," Heather berhenti sebentar. "..dan 'Ibu'.."

Kali ini, Ren sama sekali tidak bergidik ngeri seperti biasanya, dan ia seperti menanti kelanjutan dari cerita Heather.

"Aku menemukanmu.. di Eve Corner ini. Ah, waktu itu bahkan tempat ini belum bernama. Bayanganmu terlihat di mana - mana. Semua kejadian yang kau alami, aku bisa melihatnya dengan jelas, tapi tak ada yang bisa kuperbuat. Hal terakhir yang kulihat adalah saat kau pergi untuk menjemput Inuki. Ada hal yang lain daripada biasanya waktu itu. Walaupun seharusnya aku cuma bisa melihat kejadian yang ada kau di dalamnya, tapi waktu itu, pandanganku tetap berada di rumah. Sesaat setelah kau menutup pintu.. 'Ibu' berdiri di bawah tangga. Ia melihat mu pergi dari balik jendela."

"..mana mungkin.." Ren terkekeh pelan, tapi Heather tidak memasang muka sedang bercanda.

"Sayangnya.. yang dilihatnya dari balik jendela itu bukan kau.. tapi aku." Heather menyelesaikan kalimatnya. "Memang mengerikan yah? Hehehe..."

Ren cuma bisa mengangguk. Masih menunggu Heather, apakah ia masih punya lanjutan cerita atau tidak.

"..Aku tidak tau apa yang terjadi.. tapi aku melihat saat kalian 'pindah' ke sini. Kereta hitam dengan 2 orang yang kalau tidak salah.. Tom dan Shiro ya? Mereka membawa kalian dari tempat itu, dan 'melempar' kalian ke sini."

"Ooh.. ternyata mereka yah.. Apa kau melihat Inuki dan yang lain?" Heather menggeleng, dan itu membuat Ren sedikit kecewa.

Heather melambaikan tangannya, dan suara yang sangat dikenal Ren bergema di tempat itu.

"Heather!!"

Monday, September 1, 2008

Us -- Lexy and All of Them

"Lex?"

"Ho, kau sudah pulang?"

Yang dipanggil cuma bisa melongo sambil masih terduduk lemas. Pemandangan di sekitar mereka berubah. Tidak ada lagi rumah reyot, rerumputan gersang, dan tidak ada lagi 'Ibu'. Bangunan - bangunan tinggi menjulang di sekitar mereka, dan jelas sekali Lexy mengenali tempat itu, dan juga orang - orang yang menyambutnya tadi.

"Ngapain kau masih duduk di sana? Ayo berdiri!"

Setengah kebingungan, Lexy mengikuti saran Gaku, orang yang menyuruhnya berdiri sambil mengulurkan tangan dari antara kerumunan. Sambil menoleh ke arah Frey dan Freya yang kebingungan, Lexy menjelaskan bahwa Eve Corner ini adalah tempat nongkrongnya sehari - hari. Mir mendengarkan, sambil berusaha menyadarkan Ren yang pandangannya masih saja kosong.

Gaku membawa mereka berlima ke sudut yang lebih dalam, tempat di mana Lexy biasanya tidur - tiduran setelah 'berlatih' dengan gerombolan yang lain. Lexy berterima kasih, setengah batinnya ingin sekali ikut dengan Gaku ke tempat Heather, penguasa Eve Corner, yang sekaligus juga teman baik Lexy. Tapi Lexy mengurungkan niatnya, setelah Gaku langsung meninggalkannya tanpa berkata apa pun.

"Gimana Ren?" tanya Lexy. Mir menyingkir sehingga Lexy bisa melihat langsung. Pandangan mata Ren mulai kembali, tapi masih terlihat raut wajahnya yang ketakutan.

"Aku.. sudah tidak apa - apa kok.." jawabnya, yang langsung mendapat cibiran dari Lexy yang menuding Ren cuma berlagak kuat. Tentu saja, Frey langsung menggeplaknya.

Tanpa basa basi, Lexy menjelaskan tentang tempat ini setelah ia melihat pandangan mata Freya yang berbinar. Eve Corner adalah tempat pelariannya dari rumah, sekolah, dan juga orang tuanya. Kesan pertama, tentu saja ini adalah tempat tongkrongan mafia dan kroni nya, tapi menurut Lex, ini adalah rumah bagi orang - orang yang tidak punya tujuan.

"Kenapa namanya Eve?"

"Boss Heather kan cewe," gumam Lexy dan segera keempat bocah yang lain berdecak kagum.

"Tapi ngomong - ngomong," Frey memecah keheningan. "Apa yang terjadi? Kenapa kita bisa sampai di sini?" Yang lain cuma mengangkat bahu. Mereka lupa sama sekali dengan kejadian sebelumnya gara - gara terpesona melihat Eve Corner.

Mir tadinya tidak mau buka mulut, tapi setelah dipaksa Freya, ia akhirnya cerita juga. Hal terakhir yang diingatnya adalah bongkahan kayu yang diangkat tepat di atas kepalanya. Detik berikutnya, bayangan 'Ibu' di depannya mulai kabur. Rumah reyot itu pun mulai hilang, diikuti padang rumput gersang di sekitar mereka. Mir tidak sanggup lagi melihat, dan saat ia membuka mata, di sinilah mereka berada.

"Sama seperti waktu di kereta..." Giliran Ren yang buka mulut. "Hal terakhir yang kulihat adalah tangan Tom. Setelah itu pemandangan berikutnya adalah..." Tidak perlu dilanjutkan, mereka semua sudah tau.

"Yaahh... yang penting sekarang semua selamat 'kan? Ayo tidur! Kita semua butuh istirahat, ya 'kan?" Dan tanpa lama, Lexy langsung merebahkan tubuhnya di sofa reyot terdekat.

"Cuih, bilang aja klo emang ngantuk," gumam Freya sambil menjauh menghindari sambitan Lexy.

Tidak butuh waktu lama, dan menit berikutnya kelima bocah itu sudah menutup mata mereka. Berusaha menghilangkan ingatan akan kejadian buruk yang baru saja mereka alami.

Tuesday, August 19, 2008

Us -- Ren, Mir, and All of Them

Yang pertama kali membuka mata adalah Ren. Setengah tidak percaya, ia cuma bisa terdiam sambil mulai berdiri perlahan. Kakinya berpijak pada rerumputan gersang dan kering yang terlihat tajam. Sebuah kolam kecil cuma dibiarkan kering saja di sebelah kanan rerumputan gersang itu. Kotak pos dengan tiang penyangga yang nyaris putus masih berada di tempat yang sama dengan yang diingat Ren. Rumah yang lumayan besar tapi terlihat bobrok dari luar juga masih berdiri dengan tegap di depan mata Ren. Suara derit pintu yang dibuka dari dalam mulai terdengar, dan kaki Ren secara reflek langsung mundur ke belakang.

"Tidak mungkin..." Suara Mir yang bergetar membuat Ren menoleh dengan cepat. 

Lexy, Frey, dan Freya juga sudah berdiri di atas kaki mereka masing - masing. Mereka masih tidak sadar akan apa yang terjadi, dan di mana mereka sekarang. Satu hal yang membuat Lexy panik, dan kepanikannya menular ke yang lain kecuali Ren. Phoenix dan yang lain tidak tampak sama sekali.

Sementara yang lain sibuk mencari, Ren masih saja berdiri dalam diam sambil memandang pintu rumah yang terbuka sedikit, sambil sebentar - sebentar menoleh ke arah Mir yang mengikuti Freya mencari Guri dan Brownie.

Baru saja Freya mau mengomel pada Ren yang tidak mencari Inuki malah cuma berdiri diam, tapi ia mengurungkan niatnya setelah tiba - tiba Ren mundur terbirit - birit sampai jatuh terduduk. Matanya terpaku pada sosok yang keluar dari rumah di hadapan mereka.

"..ibu.." gumam Mir yang langsung mundur. Freya menahan bahu Mir sambil menepuknya perlahan, mencoba menenangkannya. Sementara Frey dan Lexy menghampiri Ren yang tidak sanggup berkata - kata.

Perempuan setengah baya dengan rambut acak - acakan sepinggang berjalan ke arah kelima bocah itu. Ren makin tegang, badannya memaksa agar ia mundur ke belakang dengan cepat. Tapi Lexy menahannya dari belakang, dan Frey berlutut di sampingnya.

Ia berhenti di hadapan Mir. Untuk sesaat, bahkan untuk bernafas pun Mir harus mengerahkan seluruh keberaniannya.

"..I-Ibu.. a-aku.. h-!" Kalimat Mir terhenti. Tangan ibunya terulur ke wajah Mir. Baru sedetik tangan dan pipi bersentuhan, Mir sudah bergidik tidak karuan. Freya menarik Mir ke belakang perlahan, tapi tangan si Ibu masih tetap pada posisinya, seolah Mir masih berdiri di sana.

Setelah beberapa saat, ia beralih ke Ren. Yang langsung berteriak histeris. Tapi si Ibu tidak terpengaruh. Hal ini membuat Ren makin tidak karuan paniknya. Tangannya mencengkeram bahu Frey kencang sekali.

"Jangan mendekat!! Pergi kau!!!!" jerit Ren putus asa. Ia menundukkan kepalanya dalam - dalam, tidak berani menatap sosok wanita di hadapannya.

"Maaf, tapi Ren tidak mau bertemu dengan Anda.." Frey menghadang. Tapi yang diajak bicara sama sekali tidak mengindahkan nya. Matanya sama sekali tidak menatap Frey, tapi langsung ke Ren.

"...Ren..." Suara rendah yang terdengar dibuat - buat membuat bulu kuduk Frey langsung merinding. ".. kenapa kau ini nakal sekali... kau membuat ku kecewa..." Tanpa sadar, langkah kaki Frey terdorong ke belakang. "...anak nakal harus dihukum.. ya 'kan Ren?"

Yang dipanggil, entah sadar atau tidak, cuma bisa mengangguk pelan. Lexy dengan segera menggoncang tubuh Ren agar dia sadar kembali, tapi percuma. Pandangan mata Ren sudah kosong.

Entah dari mana datangnya, tiba - tiba saja Frey sudah roboh gara - gara pukulan sebatang kayu oleh Ibu Ren dan Mir.

"Frey!!" Tanpa basa basi Freya langsung menghambur ke depan Frey, tepat saat kayu itu akan dipukulkan lagi ke arahnya.

Lexy dengan sigap menahan ujung kayu yang satunya lagi. Menghindarkan Freya dari memar akibat terkena pukulan, dan detik berikutnya Lexy berseru keras, "Lari!". Dengan sigap, Frey membawa Freya ke belakang Ren.

"Wah.. Ren... lagi - lagi kau melibatkan orang lain... lihat.. mereka jadi terluka 'kan..?" Dengan susah payah, Lexy menahan pegangannya. Aneh, walaupun wanita di hadapannya sudah tidak muda lagi, tapi tenaga nya luar biasa. Tidak sampai 2 menit, Lexy sudah terpental ke samping. Bongkahan kayu itu sudah siap menghajar Ren. Tapi tidak demikian yang terjadi.

Mir memeluk Ren erat - erat.

"Minggir Mir.. Kau tidak mau terluka 'kan? Kau anak baik, makanya tidak perlu dihukum.. beda dengan Ren... dia ini nakal sekali.." Tapi Mir sama sekali tidak bergeming. Begitu pula dengan yang dipeluknya.

"..hentikan Ibu... kasihan Ren.." Suara Mir bergetar. 

"Oh.. kau pun sekarang jadi nakal ya.. Pasti gara - gara dia kan..? Yah.. apa boleh buat.. lebih baik kalian dihukum bersamaan..."

Sunday, August 10, 2008

Us -- We and All of You

"Kalian akan pulang."

Satu kalimat itu saja yang diucapkan oleh Tom, yang kemudian dikuti oleh Shiro menuju gerbong masinis. Kereta putih di belakang mereka tidak terlihat lagi, dan kereta hitam yang mereka tumpangi mulai melaju kencang. Kelima bocah itu cuma bisa saling pandang. Tidak ada yang berani pergi ke gerbong masinis dan bertanya pada Tom atau Shiro, mau pulang ke mana mereka?

Freya menyikut Lexy, memberinya kode agar dia mau masuk ke gerbong masinis. Tapi kali ini pun Lexy cuman bisa mengalihkan pandangannya ke Frey. Gantian Mir yang memberi tanda pada Frey, tapi dia pun cuma bisa memalingkan wajah ke Ren, yang langsung pura - pura tidak lihat.

Beberapa saat kemudian, Mir akhirnya memberanikan diri untuk berdiri. Tapi setelah langkahnya sampai di depan pintu menuju gerbong masinis, ia tidak bisa maju lagi. Tidak sampai 5 menit setelah Mir kembali ke tempat duduknya, Shiro sudah berdiri di hadapan kelima bocah itu. Dengan sedikit salah tingkah, Mir cuma bisa memalingkan wajahnya dan tidak berani melihat muka Shiro.

"Kenapa muka kalian begitu?"

Dan mencelos lah jantung kelima bocah itu.


"Kalian bakal pulang lo, pulang. Harusnya kan kalian senang!" Shiro mengembangkan senyumannya, tapi tidak ada yang membalas balik senyumannya itu.

"..pulang ya...?" Mir bertanya dengan suara yang pelan sekali.

"Yap!"

"..Lalu kalian? Apa kalian akan ikut kita pulang?" tanya Freya.

"Kami sudah tidak punya tempat untuk pulang." Tom keluar dari gerbong masinis dan menghampiri mereka. "Sudah.. tidak ada lagi tempat yang bisa kami panggil rumah."

"..waktu itu.. Shiro yang bilang 'kan. Kalau Inuki dan yang lain sudah tidak diperlukan lagi, maka itu lah waktu nya kita pulang. Iya 'kan?" Ren menarik napas. "Tapi kami-"

"Kalian akan pulang," ujar Tom memotong kalimat Ren. "Itu bukan pertanyaan, jadi kalian tidak perlu menjawab."

"Tapi..!" Kata - kata Ren terpotong begitu saja seiring kereta hitam itu melaju semakin kencang, dan pemandangan di sekitar mereka yang tadinya kosong berubah menjadi hitam kelam, seolah memasuki ruang warp.

Kelima bocah itu memejamkan mata dan berusaha berpegangan pada apapun yang ada di dekat mereka.

"..aku belum mau pulang..." gumam Ren sambil berusaha membuka matanya. Sosok Shiro dan Tom masih berdiri tegap di depannya, seolah tidak terpengaruh oleh goncangan yang sedang terjadi. Tom mengulurkan tangannya, menutup mata Ren sampai akhirnya kesadaran Ren hilang perlahan.