Friday, June 13, 2008

Return to Tomorrow -- Those Who Left Behind part 1


Seolah tidak ada yang terjadi, Tom mengulang lagi kata - katanya barusan. Dia tetap bersikeras untuk meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Shiro.

"Sana pergi duluan.." ujar Lexy yang kesadarannya sudah kembali. Sambil bangun dengan bertopang pada Ren, Lexy kembali menyeka keringatnya. "Aku baik - baik saja. Aku akan mengalihkan perhatian monster satu ini. Saat ia bergerak menjauh, kalian langsung naik kereta nya ya."

"Lex..!" Ren memprotes, tapi Lexy menahan agar Ren tidak berisik.

"Aku juga di sini dulu," gumam Frey menyambung omongan Lexy. "Freya, Ren, Mir dan Tom, pergi duluan aja. Kita di sini dulu, ya Lex?"

Lexy cuman mengangkat alisnya, sebelum mengarahkan serangannya lagi. "Ren, jaga cewek - cewek ini ya. Terutama si berisik satu itu," Lexy melirik ke Freya yang langsung cemberut.

Mir sudah siap membantah saat mereka bersiap pergi. Tapi Ren dengan sigap memberi nya penjelasan. Nightmare di depan mereka bergerak perlahan, menjauhi kereta hitam itu.

"Rabi dan Brownie ikut mereka ya," ujar Frey sambil membelai Rabi pelan. "Jaga mereka baik - baik ya. Kami nanti nyusul kok."

"Sekarang!!" seru Lexy saat Nightmare itu akhirnya berada di jarah yang cukup jauh dari kereta hitam. Tom, Mir, Freya, Rabi dan Inuki berlari masuk. Ren berusaha menarik Shiro, tapi sia - sia, dan akhirnya ia memutuskan untuk masuk juga.

Tidak butuh waktu lama agar kereta hitam itu melaju. Hanya dalam hitungan detik, benda hitam di depan Frey dan Lexy sudah berjalan menerobos dinding di depannya, meninggalkan lubang hitam menganga lebar.

"Yosh.." Lexy sudah bersiap mengarahkan serangannya lagi. Kali ini ia berusaha agar tidak lagi berpandangan dengan makhluk di depannya itu.

"Gimana caranya biar itu bisa keluar?" Frey menanyakan sinar dari tangan Lexy.

"Nggak tau, pertama kali dulu sih, gara - gara aku lagi ngamuk." Lexy langsung ditamplek Frey. "Beneran kok! Coba konsentrasi aja. Waktu itu sih gara - gara Phoenix nyaris kena serangan makanya aku reflek aja."

Setengah tidak percaya, Frey berusaha memusatkan pikirannya. Belum sempat ia memikirkan apa pun, matanya tertuju pada serangan yang tiba - tiba mengarah ke Lexy.

"LEX!!" Seiring teriakannya, sinar biru besar meluncur menghantam serangan yang nyaris mengenai Lexy.

"Tuh kan berhasil," gumam Lexy bangga. Dan sekali lagi Frey menggeplak kepala Lexy.

Friday, June 6, 2008

My Gift to You -- Fighter

Serangan - serangan yang biasanya bisa langsung menghabisi 1 Shadow, kali ini hanya seperti sabetan angin lalu. Nightmare tetap berdiri kokoh di depan mereka. Tidak menyerang, tidak menangkis, hanya memandang ke arah udara hampa di depannya.

Sementara kelima bocah itu sibuk dengan Nightmare, Tom malah tidak memperhatikannya sama sekali. Matanya terpaku pada Shiro yang masih berdiri tegak di samping kereta hitam. Mir berkali - kali mengguncang badan Tom agar tatapannya tidak kosong terus menerus, tapi berkali - kali juga Tom kembali menatap nanar ke depan.

"Sial!" Lexy menyeka keringat yang mengucur dari lehernya. Tenaga nya terkuras karena serangan bertubi - tubi yang ia lakukan. Rabi memberi isyarat agar Lexy mundur sejenak, yang tidak ditanggapinya. Lexy masih bersiap melakukan serangan berikutnya.

Serangan Lexy berikutnya mengenai tepat di mata Nightmare, membuat Lexy berseru keras, "Kena!". Shadow yang tadi nya tidak bergeming itu kemudian mulai menoleh ke arah serangan barusan. 

Memang tidak salah ia disebut Nightmare. Cuma dengan pandangan matanya, Lexy sampai mundur ke belakang. Ada aura aneh yang mulai terpancar dari Shadow itu. Aura yang membuat perasaan menjadi tertekan. Ren menghampiri Lexy yang sampai tertelungkup rendah. Badannya bergetar tidak karuan.  

"Oi, Lex! Oi!" Seruan Ren tampak tidak terdengar di telinga Lexy, sampai akhirnya Lexy bisa mengeluarkan sepatah kata.

"..lari.."  

"Ayo pergi.." Tom tiba - tiba sudah berdiri di sebelah Lexy. "Masuk ke dalam kereta hitam itu. Kalau Shiro masih saja berdiri di sana, tinggalkan saja dia."

Kelima bocah yang tadi nya berkonsentrasi ke arah Nightmare di depan mereka kini menoleh heran. Tidak seperti Tom biasanya, ia bahkan rela meninggalkan Shiro sendiri.

"Kau sudah gila ya?!" geram Freya nyaring. "Itu SHIRO! Bukan orang lain, tapi Shiro!" Freya memang sensitif dengan hal - hal semacam ini. Ia sudah merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan.

"Tidak mungkin begitu 'kan?" gumam Frey mencoba meredakan suasana. "Lagian di depan kita masih ada.."

"Terobos saja Nightmare itu."

Mir mendaratkan tamparan keras di pipi Tom.

Sunday, May 18, 2008

My Gift to You -- Sign


Shiro berdiri di sebelah kereta hitam yang biasa mereka naiki. Seolah tidak menyadari Tom dan yang lain yang baru saja memasuki ruangan, Shiro tetap menatap nanar ke arah gerbong masinis. Pandangan matanya kosong.

Frey menghampiri Shiro dan mengguncang tubuhnya, tapi tidak ada reaksi. Bahkan tubuhnya kaku seperti menempel ke lantai tempat kakinya berpijak. Freya memanggilnya berulang kali, dan tetap tidak ada balasan.

"Lakukan sesuatu..!" pinta Mir pada Tom yang hanya diam berdiri dari tadi.

Belum sempat Tom menjawab, lantai tempat Frey dan Freya berpijak mulai bergoncang, membuat keduanya menjauh dari tempat Shiro dan kereta hitam itu berada. Lagi - lagi Shadow setinggi 5 kaki berdiri menjulang dari balik bongkahan lantai yang mencuat ke atas.

Lexy sudah siap siaga lagi dengan lengannya terarah ke depan. Inuki dan yang lain langsung mengambil barisan di depan Lexy. Kali ini, Rabi pun mengeluarkan pedangnya dan menantang Shadow di depannya itu.

"Kayaknya Shadow ini harus dikalahkan dulu baru Shiro bisa sadar," gumam Mir.

"Kalian bersiaplah.." ujar Tom dengan suara rendah yang mengerikan. "Ini tidak main - main. Nyawa kalian taruhannya."

Ren menatap Tom meminta penjelasan.

"..setauku.. dari auranya.. ini adalah Shadow yang paling kuat. Nightmare namanya. Bahkan Lights pun bisa diubahnya menjadi Shadow jika kekuatan mereka jauh di bawahnya. Apa kalian siap?"

Lexy memecahkan keheningan sesaat itu. "Kalau dia dikalahkan, Shiro bisa kembali normal 'kan?"

Anggukan kepala Tom membuat Lexy mengeluarkan senyum simpul puas. 

"Oke. Kalau gitu jangan tanggung - tanggung."

"Bertarung yang bener ya!" gumam Freya dari belakang, membuat Lexy berdecak kesal. "Lagian kereta kita juga ditawan tuh. Jangan sampe kita pulang ntar harus jalan kaki!"

Lexy membuat tanda 'OK' dengan mengacungkan jempolnya. 

Detik berikutnya, mereka semua maju bersamaan. Menyerbu Nightmare.

Thursday, May 15, 2008

My Gift to You -- Door

"Maaf ya, membuat kalian susah tadi. Aku tidak bisa bergerak dari sini soalnya," ujar Tom sambil menggaruk - garuk pipinya.

"Apa yang terjadi? Mana Shiro?"

"...mereka membawanya.." jawab Tom yang menundukkan kepalanya sekarang. "Aku tidak cukup kuat untuk menahan mereka semua, aku cuma bisa lari.. heh! Aku tidak ada beda nya dengan dia waktu itu.."

"Kemana dia dibawa? Ke atas sana? Yosh, ayo jalan," gumam Lexy tanpa mempedulikan yang lain. Phoenix tentu saja langsung mengekor di belakangnya. Ren dan Mir ikut di belakang mereka, diikuti Frey.

"Ayo, ayo!" Freya mendorong Tom dari belakang. Anehnya, biarpun Shiro tidak bisa menyentuh Tom, tapi Freya bisa menyentuh punggungnya, bahkan mendorongnya maju.

Sepanjang menelusuri lorong lantai 2, Tom akhirnya bercerita apa yang terjadi. Tom memang ingin membawa mereka ke mansion ini. Mansion of the Beginning. Menurut cerita, jika tersesat, kita tinggal mencari mansion ini, dan kita akan dibawa kembali ke permulaan, sebelum tersesat.

"..tapi ternyata para Lights sudah lebih dulu menempati mansion ini. Mereka ingin mengambil Shiro kembali. Maklum, dia sudah jadi orang penting di Klaudy, kalau dia menghilang tanpa jejak, susah mencari penggantinya. Terlebih lagi Shiro kan aslinya orang luar. Para Lights itu tidak mau rahasia mereka dibeberkan ke luar."

Yang menanti di ujung lorong lantai 2 adalah tangga menuju ke atas. Tanpa menunggu lebih lama, mereka semua menuju ke lantai 3. Tom melanjutkan ceritanya.

Ada saat di mana Shadow seperti Tom jadi terkekang seperti tadi. Itu gara - gara banyaknya Lights yang berkeliaran. Shadow besar dan Shiro palsu yang tadi, semuanya adalah manipulasi Lights. Mereka bisa membuat Shadow, lebih tepatnya, mereka bisa mengubah Lights yang lain menjadi Shadow, yang bahkan lebih kuat dari Shadow aslinya.

"Untung Rabi tau kalau Shiro yang itu palsu, kalau tidak, bakal susah menangani Shadow Monster yang tadi."

"Err.. Rabi sebenarnya tidak tau kok.." gumam Frey pelan, tapi langkah Tom langsung terhenti karena shock. "Ermm, begini lo, soalnya kami juga merasa itu bukan Shiro yang asli, makanya.."

"Ya, ya, ya, aku mengerti kok. Insting kalian hebat juga ternyata. Aku salut." Tom memukul - mukul punggung Frey dari belakang. Dengan sedikit keras. Membuat Frey meringis takut.

Di depan mereka, pintu besar menjulang tinggi. Suara cerobong kereta hitam mereka terdengar dari balik pintu itu. Tom bergidik pelan. Seolah bisa melihat apa yang ada di balik pintu itu, raut wajahnya jadi berubah.

"Jangan bilang Shiro di dalam sana..." gumam Mir yang seolah bisa membaca raut wajah Tom. Anggukan kepala Tom membuat mereka semua menghela nafas. Antara lega, dan takut melihat apa yang ada di balik sana.

Tuesday, May 13, 2008

My Gift to You -- Mansion


Sosok Shiro muncul di ujung tangga yang menuju ke ruang tamu itu. Sesaat kelima bocah itu tampak lega karena mereka menemukan Shiro yang dikira hilang. Aura aneh muncul dari 'Shiro' yang ada di depan mereka.

Bulu kuduk Freya berdiri. Kakinya mundur perlahan, seolah menghindari Shiro yang mulai turun ke arah mereka. Freya berhenti saat ia menabrak Frey di belakangnya. Seolah menenangkan, Frey memegang bahu Freya dengan erat. Lexy di sebelahnya maju menggantikan Freya di depan. Ren pun mendorong Mir ke arah Frey, dan menyebelahi Lexy. Kelima partner mereka sudah siap sedia di barisan paling depan. 

"..Selamat datang..."

Detik berikutnya, Shadow setinggi 5 kaki menjulang tinggi di depan mereka. Inuki menggeram pelan.

"Sudah lama ya.." Lexy melemaskan tulang - tulang tangannya, menimbulkan suara 'kretek-kretek' pelan. "Ayo..." gumam Lexy sambil memajukan tangan kanannya. "..maju!!"

Sinar dari telapak tangan Lexy menatap kepala Shadow di depannya dengan telak. Inuki maju mengikuti di belakangnya, mengcengkeram begian tangan Shadow yang bisa diraihnya. Phoenix dan Brownie terbang di atas Shadow itu, menaburkan serbuk - serbuk yang seharusnya bisa mengikis Shadow perlahan, tapi sepertinya tidak berpengaruh untuk Shadow yang ini.

Rabi tidak tampak berpartisipasi menyerang Shadow di depannya. Ia berusaha mencari celah untuk bisa sampai ke belakang si Shadow, ke tempat Shiro berdiri. Guri menyerang bagian samping Shadow, membuat sebuah celah agar Rabi bisa masuk. Kesempatan ini tidak disia - siakan begitu saja.

Detik berikutnya, Rabi sudah berhadapan dengan Shiro. Tanpa basa basi, Rabi mengayunkan pedangnya tepat ke kepala Shiro. Pelindung 'kekkai' tampak menyelubungi Shiro, mementalkan Rabi dan pedangnya ke belakang.

"... selamat datang..."

'BERISIK!!' Rabi kembali mengayunkan pedangnya. Kali ini, dengan kekuatan penuh, pedang kecil Rabi bertahan di atas kepala Shiro. Terdengar suara retak, dan detik berikutnya, Shiro sudah hilang, diikuti Shadow di belakang Rabi.

Lexy berusaha mengatur nafasnya yang naik turun. Tenaganya terkuras habis, berusaha menjauhkan Shadow yang tadi dari Freya dan Mir.

"Sudah selesai?" tanya Lexy penuh harap.

"Apa kita harus naik ke situ?" Ren menunjuk ke tangga menuju lantai atas.

'Mau tidak mau..' Rabi memimpin mereka menaiki tangga spiral itu.

"Yo!" Suara yang tidak asing itu membuat mereka semua menoleh. Tom tampak menyambut mereka di lantai 2.